RADARSOLO.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mulai meningkatkan kewaspadaan penuh menyusul prediksi datangnya musim kemarau 2026 yang dibarengi fenomena El Nino.
Cuaca panas ekstrem yang diperkirakan melanda wilayah Boyolali memicu risiko tinggi terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Otoritas kebencanaan kini tengah mematangkan strategi mitigasi dengan merujuk pada data historis tahun 2023 guna mencegah terulangnya bencana serupa.
Baca Juga: Balai Dusun Pendem Wonogiri Roboh Timpa Lima Warga, Satu Orang Meninggal Dunia
Refleksi Karhutla Merbabu 2023
Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Suratno mengungkapkan, fokus utama saat ini adalah memetakan kembali wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi.
Pengalaman buruk pada tahun 2023 saat El Nino memicu kebakaran hebat di kawasan Gunung Merbabu menjadi pelajaran berharga.
Kala itu, tim menemukan belasan titik api dan asap yang tersebar di jalur Gemawang, Jambong, hingga Kenteng akibat kelalaian manusia dalam aktivitas pembakaran.
"Saat ini kami mengantisipasi potensi terjadi bencana kebakaran lahan dan hutan. Kami petakan lagi wilayah rawan berdasarkan data 2023," kata Suratno kepada Jawa Pos Radar Solo, Kamis (16/4/2026).
Suratno menjelaskan bahwa karakteristik lahan di lereng Merbabu memperumit penanganan karena keberadaan vegetasi bambu cendani yang akarnya bersifat seperti gambut dan sangat mudah terbakar.
“Jenis lahan turut memperbesar risiko. Vegetasi bambu cendani di Merbabu memiliki akar yang mudah terbakar seperti gambut, sehingga api cepat meluas,” lanjutnya menceritakan kerumitan teknis di lapangan.
Dampak Sosial dan Kelangkaan Air Bersih
Baca Juga: Percepat Kecamatan Berdaya, Gubernur Ahmad Luthfi Kumpulkan 576 Camat se-Jawa Tengah
Kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pada insiden sebelumnya, jaringan pipa air bersih warga di dua desa dan 17 dukuh sempat terputus akibat hangus terbakar.
Akibatnya, ratusan warga di Dukuh Margomulyo, Diwak, dan Margokaton mengalami krisis air bersih yang cukup lama untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Selain kerusakan infrastruktur, paparan kabut asap juga memicu gangguan kesehatan massal berupa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) serta mengganggu aktivitas pendidikan dan ekonomi masyarakat setempat.
“Dari sisi materiil, kebakaran menyebabkan kerusakan lahan pertanian, perkebunan, hutan, dan ekosistem. Hasil panen hilang, vegetasi rusak, dan infrastruktur seperti jaringan air ikut terdampak. Produktivitas petani menurun karena tanaman rusak dan lingkungan kerja tidak kondusif akibat kabut asap,” terangnya secara mendalam.
Baca Juga: Baru Dilantik, Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Langsung Jadi Tersangka Korupsi oleh Kejagung
Penguatan Mitigasi dan Koordinasi
Mengingat besarnya dampak ekonomi dan sosial yang ditimbulkan, BPBD Boyolali kini memperketat pemantauan di wilayah prioritas seperti Dukuh Grogol dan Dukuh Cawang.
Suratno menegaskan bahwa mitigasi harus dilakukan jauh sebelum puncak musim kemarau tiba untuk menekan potensi pembengkakan beban pengeluaran rumah tangga akibat bencana.
"Secara empiris, kebakaran menyebabkan penurunan pendapatan dan peningkatan beban pengeluaran rumah tangga. Jadi mitigasi harus dimulai sejak sekarang," tegas Suratno.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD mengimbau keras agar masyarakat tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan pertanian. Koordinasi lintas sektoral antara TNI, Polri, relawan, dan pemangku kawasan hutan terus diperkuat untuk menjamin respons cepat jika ditemukan titik api.
Sinergi ini menjadi kunci utama agar ancaman El Nino tahun ini tidak berujung pada bencana kebakaran lahan yang meluas. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com