RADARSOLO.COM - Warga Desa Nepen, Mojosongo, Boyolali digegerkan dengan penemuan objek cagar budaya yang diduga merupakan bagian lapik bawah candi saat tengah melakukan pembukaan lahan.
Objek berupa prasasti berbentuk lingkaran dengan diameter mencapai 1,2 meter tersebut ditemukan dalam kondisi terbalik di area yang sebelumnya merupakan rumpun pepohonan bambu.
Penemuan ini menambah daftar panjang jejak arkeologis peninggalan kebudayaan Buddha yang tersebar di wilayah tersebut.
Baca Juga: Kloter Pertama Embarkasi Solo Berangkat 22 April, Wagub Jateng Minta Jemaah Fokus Ibadah
Ditemukan saat Membersihkan Lahan
Perangkat Desa Nepen Utama Adi Nugraha menjelaskan, proses penemuan ini bermula ketika pemilik lahan berniat membersihkan area pekarangannya untuk dijadikan akses jalan.
Pembersihan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan aksesibilitas sekaligus membuka pandangan ke arah kawasan wisata di sekitar Desa Nepen.
Meskipun informasi mengenai keberadaan objek ini sudah tersiar sejak dua pekan lalu, pihak pemerintah desa baru melakukan pengecekan fisik secara mendalam di lokasi, Minggu (19/4/2026).
“Ya kalau penemuan ini tadi saya baru ngecek hari ini tapi untuk informasi sudah sekitar satu sampai dua minggu yang lalu. Kemungkinan salah satu pemilik lahan itu membersihkan di area untuk dijadikan jalan. Sebelumnya kan sini ada semacam pepohonan bambu,” ujar Utama Adi Nugraha ditemui di lokasi penemuan.
Menurut Tama, sapaan akrabnya, di lokasi lahan tersebut sebenarnya terdapat dua objek serupa.
Satu objek sudah teridentifikasi sejak lama, sementara temuan terbaru ini memiliki ukuran yang jauh lebih signifikan dengan diameter kurang lebih 120 cm.
Baca Juga: Gaji ke-13 ASN 2026 Cair Tembus Berapa? Siap-siap Tunjangan hingga Puluhan Juta Masuk Rekening Juni
“Ya kalau di lokasi lahan ini ada dua, tadi kan diketahui adanya dua stupa yang ada. Yang satu sudah yang lama, akhirnya ada penemuan yang baru ini,” tambahnya.
Jejak Prasada Buddhis Abad ke-16
Tim Ahli Pendaftaran Cagar Budaya Boyolali Farid Burhanudin yang turun langsung melakukan peninjauan memastikan bahwa temuan tersebut merupakan bagian dari arsitektur candi agama Buddha.
Berdasarkan pengamatan awal, objek tersebut diidentifikasi sebagai prasada buddhis atau lapik bawah yang merupakan satu kesatuan dengan stupa candi.
Farid memperkirakan artefak ini berasal dari periodisasi sekitar abad ke-15 hingga 16 Masehi, meski kajian lebih mendalam tetap diperlukan untuk mematikan angka tahun pastinya.
Baca Juga: Targetkan Buka Fakultas Kedokteran, UMKLA Gelar Senam Sehat dan Cek Kesehatan Gratis di CFD Klaten
“Jadi ditemukan di sini berwujud prasada buddhis, lapik bawah konsonan candi, satu kesatuan dari stupa itu sendiri, peninggalan terkait dengan agama Buddha,” terang Farid Burhanudin memberikan penjelasan teknis arkeologis.
Lebih lanjut, Farid mengungkapkan bahwa wilayah Desa Nepen memang memiliki kepadatan artefak cagar budaya yang cukup tinggi, mulai dari struktur candi hingga arca. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari lokasi saat ini, sebelumnya juga telah ditemukan stupa candi yang memperkuat indikasi adanya kompleks percandian di masa lampau.
“Dan memang di daerah Nepen ini sendiri memang ditemukan beberapa artefak-artefak peninggalan cagar budaya itu sendiri, dari candi dan arca yang tersebar di sekitar desa,” jelasnya.
Potensi Museum Desa dan Edukasi Sejarah
Terkait langkah penanganan ke depan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali akan segera berkoordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.
Terdapat opsi untuk memindahkan temuan tersebut ke museum kabupaten, namun ada pula kemungkinan untuk dikelola secara mandiri oleh pihak desa jika masyarakat memiliki kesiapan untuk menjaga dan memproyeksikannya sebagai sarana edukasi sejarah.
“Tapi bila mana kalau memang dari masyarakat ataupun dari Pemdes itu sendiri bisa menangani atau bisa memproyeksikan menjadi sebuah museum desa, kita akan kumpulkan dengan sebuah tatanan atau susunan bagaimana bisa menjadi sebuah alat sarana edukasi atas masyarakat itu sendiri, agar sejarah atas Desa Nepen itu juga tidak hilang dari daerahnya itu sendiri,” urai Farid.
Baca Juga: KA Batara Kresna Hantam Motor di Rel Jalan Slamet Riyadi Solo, Pengendara Dilarikan ke Rumah Sakit
Harapan serupa juga disampaikan oleh Utama Adi Nugraha, perwakilan pemerintah desa setempat.
Dia berharap Pemkab Boyolali dapat memberikan dukungan teknis maupun fasilitas bagi Desa Nepen agar temuan-temuan bersejarah tersebut tidak hanya terbengkalai, namun bisa dikumpulkan dan dikelola dengan baik sebagai museum atau ikon desa wisata.
“Semoga dari pemerintah kabupaten juga ada bantuan untuk museum atau untuk kedepannya untuk barang-barang yang ada di Desa Nepen. Seperti stupa, tidak hanya di sini, masih ada di tempat-tempat lain yang ada di Desa Nepen,” pungkas Tama. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono