RADARSOLO.COM - Sebagai ibu rumah tangga dan berasal dari desa, Dwi Fajar Nirwana mengenal betul bagaimana kehidupan perempuan di pedesaan.
Setelah menjabat menjadi anggota DPRD Boyolali, lalu dipercaya sebagai Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Mbak Fajar –sapaan akrab Dwi Fajar Nirwana– komitmen mengangkat derajat perempuan di desa.
Memaknai semangat Raden Ajeng (RA) Kartini, Mbak Fajar coba mengisahkan potret perempuan di desa yang masih menghadapi berbagai persoalan dan dinamika. Terutama masalah ekonomi, kompetensi sumber daya manusia (SDM), termasuk keterbatasan kesempatan dalam mengembangkan usaha.
Tak jarang, perempuan di desa memikul beban ganda antara mengurus suami dan anak, hingga membantu perekonomian keluarga. Meski begitu, Mbak Fajar menyebut perempuan memiliki kekuatan berupa ketangguhan dan semangat gotong royong.
Dari sudut pandang Mbak Fajar, perempuan di desa memiliki semangat yang luar biasa.
Baca Juga: Kartini Masa Kini: Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, "Perempuan Tangguh Itu Berani Melangkah"
Mereka mampu menjadi penggerak ekonomi keluarga, sekaligus aktif di lingkungan dan masyarakat. Ini berdasarkan cerita dari emak-emak para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) saat turun ke akar rumput.
“Salah satunya adalah ibu-ibu pelaku UMKM. Mereka mampu mengembangkan usaha dari skala kecil menjadi lebih besar, dengan penuh ketekunan,” puji Mbak Fajar kepada Jawa Pos Radar Solo.
Kisah tersebut menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi Mbak Fajar, termasuk seluruh perempuan di Indonesia, bahwa dengan niat dan usaha, perempuan bisa mandiri.
Tak sekadar memuji, Mbak Fajar juga selalu memberi motivasi. Mendorong perempuan di desa agar lebih mandiri.
“Sering saya berdialog langsung dengan mereka. Mendengarkan aspirasi, mengikuti kajian, dan kegiatan sosial. Saya selalu men-support ibu-ibu agar lebih mandiri, berdaya dan berani mencoba hal-hal baru yang positif,” imbuhnya.
Di sisi lain, Mbak Fajar memaknai sosok RA Kartini sebagai simbol keberanian dan harapan bagi perempuan.
“Kartini adalah simbol keberanian dan harapan. Beliau mengajarkan, bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa, termasuk di daerah,” ungkapnya.
Meski diakui, perjuangan perempuan saat ini mengalami pergeseran. Perempuan bukan sekadar memperjuangkan kesetaraan, tetapi bagaimana caranya harus mandiri, berdaya secara ekonomi, dengan tetap menjaga nilai-nilai keluarga.
Sebagai wabup, Mbak Fajar getol memperjuangan nasib perempuan di desa melalui berbagai pemihakan. Di antaranya mendorong akses pelatihan peningkatan skill, permodalan, pendampingan usaha, hingga dukungan lingkungan yang positif. Muaranya agar perempuan berani berkembang,” jelasnya.
Tak lupa, wabup perempuan pertama di Kabupaten Boyolali ini berpesan kepada perempuan agar jangan takut memiliki mimpi besar. Mbak Fajar menegaskan, jangan pernah takut untuk terus belajar, upgrade diri, berani berbicara, dan berani bertindak untuk perubahan yang lebih baik.
“Jadilah perempuan yang kuat, mandiri, cerdas, dan berpenampilan menarik. Namun harus ditunjang dengan good attitude, serta tetap memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan sekitar,” pesan Mbak Fajar. (fid/fer)
Editor : fery ardi susanto