Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Pementasan Sedulur Papat Limo Pancer di Desa Gombang: Kolaborasi 100 Seniman Memukau Ribuan Penonton

Abdul Khofid Firmanda Putra • Minggu, 26 April 2026 | 13:02 WIB
Taman Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Boyolali menjadi panggung seni kolosal yang memukau, Sabtu (25/4/2026) malam. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Taman Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Boyolali menjadi panggung seni kolosal yang memukau, Sabtu (25/4/2026) malam. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Suasana Taman Desa Gombang, Kecamatan Sawit, Boyolali berubah menjadi panggung seni kolosal yang memukau, Sabtu (25/4/2026) malam.

Dengan latar pepohonan dan arsitektur taman yang asri, puluhan seniman membawakan pertunjukan multiseni bertajuk “Sedulur Papat Limo Pancer”.

Baca Juga: Perayaan Hari Tari Dunia di Sragen: Memutar Harmoni dalam Kibasan Kipas

Pementasan ini menjadi sangat istimewa karena berhasil memadukan unsur tari tradisional, musik etnik kontemporer, teater, hingga olah vokal dalam satu narasi besar yang mengangkat kembali falsafah kuno masyarakat Jawa ke tengah generasi milenial dan Gen Z.

Menghidupkan Falsafah Jawa Lewat Seni Baru

Pementasan ini lahir dari gagasan Dwi Priyo Sumarto, seorang pegiat seni sekaligus pemilik sanggar tari setempat yang merasa gelisah dengan mulai lunturnya pemahaman anak muda terhadap akar budaya mereka.

Dengan melibatkan sekitar 100 penampil yang terdiri dari siswa SMK 8 Surakarta, mahasiswa ISI Surakarta, hingga seniman lokal Gombang, Priyo mencoba menterjemahkan konsep empat unsur nafsu manusia—Aluamah, Amarah, Mutmainah, dan Sufiyah—ke dalam gerak dan nada. 

Baginya, Taman Desa Gombang adalah lokasi paling representatif karena memiliki sejarah karawitan yang kuat serta menawarkan atmosfer pertunjukan non-konvensional yang lebih dekat dengan penonton.

“Sebenarnya itu falsafah Jawa. Sekarang banyak anak-anak muda mulai nggak paham. Saya coba memperkenalkan ke anak-anak muda zaman sekarang, terutama teman-teman musik, bikin satu karya dari falsafah Jawa dengan cara baru,” kata Priyo.

Proses latihan intensif selama dua bulan dilakukan secara parsial per karakter nafsu sebelum akhirnya digabungkan menjadi satu kesatuan utuh.

“Biasanya latihan per kelompok dulu. Misalnya hari ini kelompok Amarah. Terus nanti hari kelimanya gabungan,” tutur Priyo.

Dukungan Pemerintah dan Ekspresi Gen Z

Baca Juga: Sabet National Governance Awards 2026, Sragen Masuk Daftar 2 Kabupaten Terbaik se-Indonesia

Acara ini mendapatkan apresiasi luar biasa dari Pemkab Boyolali melalui Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar). 

Kepala Bidang Pemuda Disporapar Boyolali Rima Kusuma turut naik panggung untuk membacakan puisi.

Menurutnya, pementasan ini adalah wadah positif untuk mengalihkan energi anak muda dari aktivitas yang kurang produktif.

Event akbar ini membuktikan bahwa generasi muda Boyolali mampu berinovasi dan bangga akan budaya lokalnya sendiri di era digital.

 Baca Juga: Tak Harus Mewah, Terminal Tawangsari Sukoharjo Jadi Arena Turnamen E-Sport, Ini Daftar Pemenangnya

“Ternyata jiwa muda ini animo-nya sangat besar. Mereka mampu mengapresiasi, mengimplementasikan bakat mereka dengan maksimal melalui musik kontemporer dan kolaborasi yang berkreasi,” ujar Rima. 

Ia berkomitmen untuk membawa keberhasilan acara ini ke tingkat pimpinan daerah agar ke depan para seniman potensial mendapatkan ruang sinergi yang lebih luas.

“Boyolali belum pernah ada seperti ini. Ayo kita tingkatkan terus maju bersama kesenian,” tegasnya.

Rima juga menambahkan pentingnya kegiatan ini sebagai alternatif hobi bagi anak muda.

“Minimal waktunya tidak habis melototi gawai, tidak overtime nongkrong yang tidak ada juntrungannya. Mereka berinovasi, berkreasi membuat konten simple acara tersebut serta bangga bisa berkarya. Apresiasi atas dedikasi mereka dalam berkarya dan para Gen Z tidak gabut,” pungkas Rima.

Ekonomi Desa dan Rencana Event Rutin

Kehadiran lebih dari 1.000 penonton yang memadati area taman membawa berkah tersendiri bagi ekonomi kerakyatan di Desa Gombang.

Kepala Desa Gombang Ahmadi Wahyu Wibowo mengaku takjub dengan besarnya animo masyarakat terhadap pementasan perdana ini.

Keberhasilan ini semakin memperkuat slogan Gombang sebagai desa seni dan budaya yang mandiri secara ekonomi melalui aktivasi ruang publik.

“Luar biasa, ini kan baru sekali. Lihat sendiri kan luar biasa. Ini dihitung mungkin seribu lebih,” kata Ahmadi Wahyu Wibowo dengan nada bangga.

Baca Juga: Hujan Gol! Sylva Kalteng FC Pastikan Back to Back Juara Liga 4

Melihat dampak positif yang dihasilkan, Pemerintah Desa Gombang kini tengah menyusun rencana matang untuk menjadikan Taman Desa sebagai pusat kebudayaan yang hidup secara rutin.

“Program kita planningnya tiap malam minggu insyaallah ada event di sini,” tutup Bowo mengakhiri pementasan malam itu dengan optimisme tinggi. (fid)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#taman desa gombang #seni kolosal #Boyolali #pertunjukan #sawit