RADARSOLO.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim kemarau di Kabupaten Boyolali akan terjadi pada Mei 2026.
Puncak kemarau diperkirakan berlangsung Juli hingga Agustus 2026 dengan sifat hujan di bawah normal.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Suratno, mengatakan durasi musim kemarau tahun ini diperkirakan 16-21 dasarian atau sekitar 5-7 bulan ke depan.
“Berdasarkan informasi maupun rilis dari BMKG, untuk wilayah Kabupaten Boyolali, diperkirakan awal musim kemarau akan berada di bulan Mei 2026. Dengan sifat hujan musim kemarau bawah normal, dan diperkirakan puncak kemarau akan terjadi antara bulan Juli sampai Agustus 2026,” kata Suratno, Selasa (28/4).
Baca Juga: Aneh, Orang Meninggal Bisa Tanda Tangani SK Pengangkatan Pengurus KUD di Boyolali
Suratno menjelaskan, musim kemarau 2026 akan dipengaruhi Badai El Nino yang memanaskan permukaan laut di Samudra Pasifik, atau disebut juga dengan Godzilla.
Yang nantinya akan berdampak kepada lebih keringnya musim kemarau tahun 2026 ini, dan akan lebih panjang musim kemaraunya daripada tahun-tahun biasanya.
Suratno meminta masyarakat memahami peta rawan bencana kekeringan di Boyolali.
Berdasarkan pengalaman empiris tahun lalu, wilayah yang berpotensi kekeringan meliputi Kecamatan Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamudro, beberapa titik di Klego, Andong, Tamansari, Cepogo, Ampel, Gladagsari, hingga Kecamatan Boyolali.
“Ini berdampak kekeringan sehingga kebutuhan air bersih relatif kekurangan sehingga perlu menyiapkan kesiapsiagaan semuanya,” jelasnya.
Selain kekeringan, potensi kebakaran hutan dan lahan juga tinggi. Wilayah yang selama ini tercatat memiliki data kejadian kebakaran antara lain Kecamatan Gladagsari, Banyudono, Sawit, dan hampir merata di seluruh kabupaten.
Karena itu, Suratno mengimbau masyarakat agar tidak membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran sampah tanpa pengawasan.
“Harus dipastikan bahwa ketika ditinggalkan, titik api telah padam 100 persen. Karena banyak kejadian bencana kebakaran ini karena sifat yang abai dari beberapa masyarakat. Yang kemudian menimbulkan kerugian material maupun kerugian dari aspek lain termasuk bidang kesehatan,” tegasnya.
Menghadapi dampak kemarau panjang, Suratno menekankan pentingnya sinergi masyarakat dan pemerintah dalam mitigasi.
Di sektor pertanian, masyarakat diminta menyesuaikan jadwal tanam agar tanaman tidak mengalami fase kritis kekeringan.
“Juga memilih varietas yang tahan kekeringan dengan siklus tanam yang pendek dan harapannya optimalisasi pengelolaan air irigasi dan sumur resapan diterapkan,” tambahnya.
Untuk energi dan sumber daya air, perlu dilakukan penghematan penggunaan air, peningkatan kapasitas penampungan air rumah tangga, revitalisasi waduk, perbaikan jaringan distribusi air, serta pemantauan muka air bendungan secara real time.
Pemerintah juga akan meningkatkan kesiapsiagaan peralatan dan logistik menghadapi potensi bencana kekeringan dan karhutla.
Jika diperlukan, penetapan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla akan dilakukan.
“Apabila memang terjadi bencana yang berdampak luas akibat dari kekeringan di musim kemarau ini, tentu kita juga akan selalu mengikuti perkembangan dengan lakukan kaji cepat. Untuk dipertimbangkan adanya penetapan status keadaan darurat,” ungkap Suratno.
Ia menegaskan, waktu yang ada saat ini harus dimanfaatkan untuk menyiapkan kesiapsiagaan.(fid)
Editor : Nur Pramudito