Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kunjungi KUD Cepogo, Kepala Bappenas Rachmad Pambudy Dorong Hilirisasi Sapi Perah Boyolali

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 29 April 2026 | 17:15 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmad Pambudy melakukan kunjungan kerja ke KUD Cepogo, Rabu (29/4/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmad Pambudy melakukan kunjungan kerja ke KUD Cepogo, Rabu (29/4/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Kabupaten Boyolali sebagai lumbung susu nasional mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat dalam upaya memperkuat ketahanan pangan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmad Pambudy melakukan kunjungan kerja ke KUD Cepogo, Rabu (29/4/2026).

Kunjungan ini bertujuan memantau langsung potensi serta merumuskan strategi hilirisasi produk peternakan sapi perah agar mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi para peternak lokal.

Dukungan Swasembada Pangan dan Energi

Rachmad memberikan apresiasi tinggi terhadap visi pembangunan yang dijalankan Pemkab Boyolali.

Baca Juga: Buntut Dugaan Keracunan Ratusan Murid SMPN 1 Tulung: Bupati Klaten Temukan SOP Bermasalah, SPPG Sorogaten Ditutup Sementara

Program-program daerah yang menyentuh sektor hulu peternakan hingga integrasi dengan agenda nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sangat relevan dalam mendukung kemandirian pangan dan energi di masa depan.

Rachmad memastikan bahwa serapan produk susu untuk kebutuhan gizi nasional di wilayah ini telah berjalan sesuai jalur yang diharapkan.

“Pak Bupati punya program bagus sekali. Mulai dari ngurus sapi, MBG, sampai program-program lain yang hubungannya dengan swasembada pangan, energi, dan lain-lain,” ujar Rachmad Pambudy saat melakukan peninjauan di KUD Cepogo.

Empat Pilar Perbaikan Sektor Peternakan

Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali M Syawaludin mengungkapkan, pertemuan dengan Menteri Bappenas telah menghasilkan pemetaan strategis mengenai aspek-aspek yang perlu segera dibenahi.

Terdapat empat poin utama yang menjadi fokus, yakni pembaruan bibit sapi perah jenis Friesian Holstein (FH) untuk menggantikan indukan lokal yang produktivitasnya mulai menurun.

Baca Juga: Polemik Citywalk Solo Meledak: Komisi III Panggil Pemkot dan Pengelola Parkir, Terungkap Adanya Intervensi Oknum hingga Ormas

Serta pembangunan pabrik konsentrat pakan mandiri guna menekan biaya produksi yang selama ini bergantung pada pasokan dari Jawa Timur.

“Tadi sudah mengerucut ada empat hal yang perlu diperbaiki,” jelas Syawaludin.

Ia merinci bahwa selain bibit dan pakan, program kawin silang dengan bibit impor serta penambahan sarana prasarana cooling unit menjadi prioritas guna menjaga kualitas susu.

Mengenai pakan, Syawaludin menekankan pentingnya kualitas demi hasil produksi yang optimal.

Baca Juga: Tinggalkan si Bungsu yang Baru Berumur 15 Bulan, Tutik Anita Sari Korban Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur Bekasi Dimakamkan di Baturetno Wonogiri

“Nanti kita bicarakan pembuatan pabrik konsentrat pakan ternak. Tadi kalau bisa kita bikin pakan ternak sendiri bagi usaha sendiri. Tentu kualitas menjadi prioritas utama karena dengan kualitas konsentratnya nanti harapannya untuk indukan juga bagus dan hasil produksi peternak juga bagus,” paparnya.

Hilirisasi dan Optimalisasi Produk Lokal

Pemkab Boyolali menaruh harapan besar agar hasil susu dan daging dari peternak lokal dapat terserap sepenuhnya oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Syawaludin berharap agar Rumah Potong Hewan (RPH) dan fasilitas pengolahan di Boyolali dapat dimaksimalkan fungsinya untuk memutus rantai ketergantungan pada produk luar daerah.

“Harapannya nanti susunya ini termasuk dagingnya nanti bisa disalurkan ke SPPG. Sehingga nanti kita juga mengajukan permohonan untuk sapi bibit unggul, kemudian ayam ternak,” katanya.

Senada dengan hal tersebut, pengusaha kuliner nasional Puspo Wardoyo menyoroti masih tingginya angka impor susu nasional yang mencapai 80 persen, sementara potensi lokal belum tergarap maksimal akibat keterbatasan teknologi pengolahan.

Puspo mendorong adanya percepatan pembangunan pabrik pengolahan susu di Boyolali agar peternak bisa "naik kelas" dari sekadar penyedia bahan baku menjadi produsen produk olahan.

Baca Juga: Sambangi UMS, Wakil Ketua MPR RI Soroti Paradoks Energi dan Krisis Iklim

“Kami berharap sekali untuk ikut juga membantu untuk terciptanya pabrik susu di sini. Karena memang kami butuhkan susu, selama ini susah dan tidak dapat banyak,” ujar Puspo Wardoyo.

Menurutnya, pemenuhan kebutuhan nasional harus dimulai dari penguatan produksi lokal melalui sentuhan teknologi yang tepat.

“Paling tidak untuk kita sendiri pakai produk-produk lokal. Kendalanya apa? Teknologinya belum banyak yang bisa supply. Tidak cukup produksi susu pasteurisasi saja, belum cukup. Jadi karena tidak ada hilirisasinya tadi. Kita ingin mengisi itu. Produksi susunya sudah cukup, tapi pengolahannya kurang,” pungkasnya. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#KEPALA BAPPENAS RACHMAD PAMBUDY #kud cepogo #Sapi Perah #Boyolali #hilirisasi