RADARSOLO.COM – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali mengambil langkah preventif yang ketat guna menjamin keamanan dan kesehatan hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
Fokus pengawasan intensif dilakukan untuk membentengi wilayah Boyolali dari ancaman penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), hingga Anthrax.
Baca Juga: Bentuk Generasi Tangguh, BPBD Boyolali Bekali Siswa Saka Wira Kartika Ilmu Mitigasi Bencana
Melalui strategi komprehensif yang melibatkan petugas medis veteriner dari lima UPT Puskeswan dan kolaborasi lintas instansi, Disnakkan berupaya memastikan seluruh hewan yang akan dikurbankan dalam kondisi layak konsumsi dan bebas penyakit.
Strategi Pengawasan dan Pemeriksaan Antemortem
Plt Kepala Disnakkan Boyolali Ahmad Gojali mengungkapkan, pihaknya telah menetapkan empat pilar utama dalam pengawasan tahun ini.
Langkah tersebut dimulai dengan penyisiran kesehatan di tingkat pengepul oleh Bidang Keswan, serta pelaksanaan pemeriksaan antemortem yang krusial sebelum penyembelihan dilakukan.
Pemeriksaan ini bertujuan memvalidasi kondisi fisik hewan secara menyeluruh guna mendeteksi gejala klinis penyakit sebelum memasuki area pemotongan.
“Dilakukan pemeriksaan antemortem yaitu pemeriksaan hewan kurban pada saat menjelang disembelih oleh petugas Kesehatan Hewan, yang telah diberi SK oleh Plt. Kadisnakkan dalam melaksanakan tugasnya, dibantu oleh PDHI Jateng IV Korwil Boyolali,” kata Ahmad Gojali.
Selain itu, Disnakkan bersama Laboratorium Keswan Balai Veteriner Provinsi Jateng juga telah melakukan pengambilan sampel acak di beberapa pengepul besar pada Kamis (7/5/2026) untuk pengujian laboratorium terhadap cacing hati (Fasciola hepatica) serta parasit darah.
Baca Juga: Gerakan Rabu Pon, Perempuan Jatiyoso Karanganyar Didorong Jaga Ekosistem Alam
Percepatan Vaksinasi PMK, LSD, dan Anthrax
Selain pemeriksaan fisik, intervensi medis melalui vaksinasi terus dikebut untuk mencapai kekebalan komunal pada ternak.
Hingga akhir April 2026, realisasi vaksinasi PMK telah mencapai lebih dari separuh target yang ditetapkan.
Pihak dinas optimistis target pemberian dosis ini akan tuntas tepat waktu sebelum puncak permintaan hewan kurban terjadi di pasar-pasar ternak.
“Untuk wilayah Kabupaten Boyolali sampai saat ini telah divaksin PMK sampai dengan tanggal 30 April 2026 sebanyak 9.727 dosis dan saat ini masih berjalan sampai target tercapai sekitar 16 ribu dosis,” ujarnya.
Sementara itu, untuk penyakit LSD, petugas fokus pada area yang menunjukkan potensi penularan karena sifatnya yang sporadis. Penanganan khusus juga diterapkan pada penyakit Anthrax dengan memperketat pengawasan di wilayah-wilayah tertentu yang memiliki catatan riwayat kasus.
Perlindungan di Wilayah Endemis
Wilayah endemis Anthrax di Boyolali mendapatkan perhatian ekstra melalui pemberian dosis vaksin rutin. Setidaknya terdapat empat kecamatan yang menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi ini, yakni Klego, Ampel, Nogosari, dan Simo.
Pihak Disnakkan memastikan ketersediaan vaksin mencukupi untuk melindungi populasi ternak di zona merah tersebut.
“Untuk vaksinasi LSD dilakukan pada daerah-daerah berpotensi penularan karena bersifat sporadis dan vaksinasi Anthrax juga telah rutin dilakukan di daerah endemis anthrax yaitu Kecamatan Klego, Kecamatan Ampel, Kecamatan Nogosari dan Kecamatan Simo dengan total vaksin sebanyak 2.000 dosis,” tuturnya.
Masyarakat diimbau untuk menjadi konsumen yang cerdas dengan selalu memeriksa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) sebelum melakukan transaksi pembelian hewan kurban, guna memastikan ternak telah melalui sertifikasi medis dari petugas resmi. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono