RADARSOLO.COM-Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menerbitkan peringatan dini kepada masyarakat untuk mewaspadai ancaman penyakit Hantavirus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
Penyakit yang bersumber dari hewan pengerat ini menjadi sorotan setelah adanya laporan kasus fatal pada kru kapal pesiar internasional belum lama ini.
Hantavirus dikenal sangat berbahaya karena menyerang organ vital dan dapat menyebabkan komplikasi berat seperti gagal ginjal akut hingga gangguan sistem pernapasan jika tidak segera ditangani secara medis.
Risiko penularan tertinggi justru terjadi saat aktivitas sederhana seperti membersihkan area rumah yang kotor.
Kepala Dinas Kesehatan Boyolali FX Kristandiyoko memperingatkan warga agar tidak sembarangan menyapu kotoran tikus yang sudah kering.
Hal ini dikarenakan partikel virus yang mengering dapat terbang ke udara dan terhirup oleh manusia melalui pernapasan, sebuah proses yang dikenal sebagai transmisi aerosol.
“Jangan menyapu kering atau pakai vacuum. Itu bisa membuat virus terhirup menjadi aerosol. Gunakan cara basah dengan disinfektan dan APD lengkap,” kata Kristandiyoko, Rabu (13/5/2026).
Ia sangat menyarankan masyarakat menggunakan larutan pemutih dengan perbandingan 1:10 untuk membasahi kotoran tikus sebelum dibersihkan.
Metode basah ini dinilai efektif mematikan virus sekaligus mencegah partikel berbahaya beterbangan di udara.
Baca Juga: Aturan Baru Pilkades Serentak 2026, Calon Tunggal Belum Jaminan Menang
Penyakit ini memiliki perjalanan klinis yang spesifik dan bertahap. Dimulai dari fase demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama di bagian punggung dan paha.
Kristandiyoko memaparkan bahwa masyarakat harus waspada jika mengalami penurunan tekanan darah secara mendadak atau jumlah urine yang berkurang drastis (oliguria), karena hal itu menandakan virus mulai merusak fungsi ginjal.
Penanganan medis saat ini masih bersifat suportif karena belum ditemukannya vaksin spesifik.
“Pengobatan hanya suportif, mulai dari ICU, oksigen, ventilator, ECMO, sampai cuci darah kalau sudah gagal ginjal,” ujarnya.
Mengingat masa inkubasi yang cukup lama, yakni 1 hingga 8 minggu, warga diminta jujur kepada petugas kesehatan mengenai riwayat kontak dengan lingkungan yang banyak terdapat tikus.
Terlambatnya diagnosis dapat membuat kondisi pasien memburuk hingga memerlukan alat bantu pernapasan atau prosedur cuci darah di ruang intensif.
Di Indonesia, virus ini umumnya dibawa oleh tikus rumah (Rattus rattus) dan tikus got (Rattus norvegicus).
Karena habitat kedua jenis tikus ini bersinggungan langsung dengan pemukiman, langkah pencegahan utama adalah dengan memutus akses masuk tikus ke dalam rumah serta mengelola sampah rumah tangga dengan benar.
Dinkes Boyolali mendorong penguatan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai fondasi utama pencegahan penyakit zoonosis ini.
Kristandiyoko mengingatkan agar masyarakat segera mencari bantuan medis jika gejala awal mulai muncul, terutama setelah melakukan aktivitas pembersihan gudang atau loteng.
Baca Juga: Jelang Idul Adha, Perketat Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban Di Pasar Sapi Bekonang Sukoharjo
“Kalau ada riwayat bersihin gudang atau rumah banyak tikus lalu demam tinggi, segera sampaikan ke petugas puskesmas. Jangan tunggu sampai sesak atau gagal ginjal,” pungkasnya.
Dengan kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan lingkungan, diharapkan risiko penularan Hantavirus di wilayah Boyolali dapat diminimalisir. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono