RADARSOLO.COM - Di Pasar Hewan Jelok, Kecamatan Cepogo, Boyolali, terdapat pekerjaan unik yang hingga kini masih eksis.
Adalah jasa "salon sapi". Tugasnya adalah membuat sapi untuk kurban tampil lebih gagah, simetris, dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Mbah Darmo Semin (74), salah satu maestro salon sapi di Pasar Hewan Jelok.
Baca Juga: Jan Olde Blak-blakan! Dewa United Kalah dari Persis Solo karena Tak Bermain dengan Hati
Berbekal gergaji kayu dan kikir besi, warga Candigatak, Cepogo, Boyolali itu dengan telaten memotong kuku-kuku sapi yang sudah memanjang.
Termasuk meratakan bentuk tanduk yang tidak simetris.
Perawatan ini sangat krusial karena bentuk kuku yang tidak rata dapat mengganggu tumpuan berdiri sapi, terutama untuk jenis komoditas berbobot jumbo yang rawan mengalami pincang.
Pengalaman puluhan tahun membuat Mbah Darmo hafal betul insting hewan berkaki empat tersebut.
Termasuk bagaimana cara menenangkan sapi berbobot ratusan kilogram yang kerap memberontak saat kukunya dipotong.
“Saya sudah membuka jasa salon sapi sejak sekitar tahun 1980-an, masa di mana keterampilan merapikan fisik sapi sangat dibutuhkan,” jelasnya usai menerima orderan, Jumat (15/5/2026).
Baca Juga: Sentilan Pedas Alexis Messidoro: Persis Solo Terpuruk Karena Manajemen yang Buruk
Baginya, pekerjaan di gubuk kayu pojok Pasar Hewan Jelok ini adalah ruang pengabdian sekaligus pembuktian keahlian masa lalu yang mulai tergerus zaman.
Meski berhadapan dengan risiko fisik yang tinggi seperti terinjak atau terseruduk, Mbah Darmo memilih tetap mematok tarif yang sangat merakyat.
Tidak pernah memanfaatkan momentum tingginya permintaan menjelang Lebaran Kurban untuk menaikkan harga sepihak.
Konsistensi tarif ini yang membuat dirinya tetap memiliki tempat tersendiri di hati para pedagang sapi lawas yang menjadi pelanggan setianya sejak pasar masih bertempat di lokasi lama, yakni Pasar Hewan Sunggingan.
“Tarifnya saat hari biasa maupun Iduladha tetap sama, Rp50 ribu per ekor. Biasanya sapi dibawa ke sini untuk dipercantik,” ujarnya.
Baca Juga: Panen Raya Jagung di Nguter Sukoharjo, Dukung Swasembada Pangan Nasional
Menurut Mbah Darmo, sentuhan pada bagian kaki dan kepala ini bukan sekadar urusan estetika belaka.
Kuku yang lurus dan kokoh serta tanduk yang rapi terbukti mampu mendongkrak performa visual sapi secara keseluruhan, sehingga pedagang kerap kali bisa menaikkan posisi tawar harga jual hingga selisih ratusan ribu rupiah dibanding kondisi sebelum disalon.
Kendati musim kurban tahun ini tergolong ramai, Mbah Darmo tidak menampik adanya tren penurunan omzet.
Pola peternakan di mana sapi-sapi dipelihara di kandang dengan alas beton disinyalir membuat kuku sapi terkikis secara alami, sehingga tidak lagi memerlukan banyak perbaikan manual saat dibawa ke pasar hewan.
Jika pada masa keemasannya, puluhan tahun lalu, Mbah Darmo memotong kuku hingga puluhan ekor sapi dalam sehari.
Baca Juga: Terkendala Lahan, 18 Desa dan Kelurahan di Sukoharjo Belum Miliki KDKMP
“Mulai menurun sejak Iduladha tahun lalu. Saya juga tidak tahu penyebabnya apa. Mungkin sekarang sapinya sudah bagus-bagus,” tuturnya.
Walau pendapatan dari tiap hari pasaran tidak lagi menentu, Mbah Darmo tetap memilih membuka lapak kayunya demi menjaga denyut tradisi agraris di lereng Gunung Merapi-Merbabu tetap hidup. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono