Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Nguri-uri Budaya Sekaligus Berwirausaha, Kerajinan Kuluk Manten Desa Sambon Boyolali Tembus Belanda dan Prancis

Abdul Khofid Firmanda Putra • Selasa, 19 Mei 2026 | 17:31 WIB
 Sunarni konsisten meneruskan usaha keluarga membuat kuluk manten di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Sunarni konsisten meneruskan usaha keluarga membuat kuluk manten di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Produk ekonomi kreatif berbasis budaya asal Kabupaten Boyolali terbukti memiliki daya saing yang tinggi di pasar internasional.

Sebuah industri rumahan yang memproduksi mahkota raja atau penutup kepala pengantin adat Jawa yang dikenal dengan istilah "kuluk manten" di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, sukses melebarkan sayap bisnisnya hingga menembus benua Eropa.

Warisan keahlian turun-temurun ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian nilai tradisi mampu berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi sosiologis.

Baca Juga: Ada Apa di Gunung Kawi? Sejarah Wisata Religi hingga Asal-Usul Pesugihan yang Viral Seret Nama Selebritas

Eksistensi kerajinan kuluk manten di Desa Sambon bukan merupakan usaha yang instan.

Melainkan sebuah dedikasi panjang yang telah dirintis sejak tahun 1974.

Mengandalkan detail ketelitian tangan (handmade) tanpa sentuhan mesin modern, mahkota bundar ini justru diminati oleh kolektor seni dan pelaku industri pernikahan di negara-negara barat karena nilai otentisitasnya yang kuat.

Sunarni, istri mendiang Heri Sanjoyo selaku perajin kuluk manten di Desa Sambon, Kecamatan Banyudono, mengungkapkan bahwa pasar internasional menjadi salah satu pilar penopang usaha keluarganya di samping pasar domestik.

“Kuluk manten yang berbentuk bundar itu kombinasi bahan baku kertas karton dengan kain kantun serta asesoris lainnya,” ujar Sunarni, Selasa (19/5/2026).

Ia menambahkan, negara seperti Belanda dan Prancis menjadi konsumen mancanegara yang rutin memesan produk buatannya untuk keperluan galeri seni maupun komunitas kebudayaan Indonesia di sana.

Baca Juga: Pelaku Begal Pantat di Wonogiri Dibekuk, Dalihnya Bikin Geleng-geleng

Di pasar dalam negeri, produk kuluk dari Desa Sambon telah memiliki posisi tawar yang prestisius.

Selain menjadi langganan para perias pengantin di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, hingga Surabaya, Sunarni dipercaya menjadi penyuplai resmi penutup kepala untuk kebutuhan internal Keraton Solo dan Yogyakarta.

Permintaan pasar biasanya akan mengalami eskalasi tajam saat memasuki bulan-bulan sakral dalam sistem penanggalan Jawa.

Salah satunya menjelang momentum pergantian tahun baru atau malam satu Suro.

Pada fase tersebut, pesanan khusus dari kalangan bangsawan mulai mengalir masuk.

Baca Juga: Mandi di Sungai Sengkarang, Remaja asal Pekalongan Meninggal Terseret Arus

“Selain memproduksi kuluk manten untuk Keraton Surakarta dan Yogyakarta, kami juga melayani pesanan dari luar negeri,” terang Sunarni. 

Kendati memiliki jaringan pasar yang impresif, kelangsungan usaha mikro ini tengah dibayangi oleh tantangan ekonomi makro yang cukup pelik.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta ketegangan geopolitik global berdampak langsung pada rantai pasok bahan baku pelengkap kuluk.

Seperti benang emas dan manik-manik hiasan tertentu yang sebagian besar komponennya masih mengandalkan barang impor.

Kenaikan harga modal ini terjadi di waktu yang kurang tepat, mengingat daya beli pasar domestik pascapandemi dilaporkan masih berada dalam fase transisi penurunan jika dibandingkan dengan periode tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Soal Air Lindi di TPA Troketon Klaten Mulai Tertangani, Bupati Hamenang: Tinggal Fokus Pengolahan Sampah

Situasi ini memaksa Sunarni bersama tiga orang anaknya yang kini bahu-membahu berbagi peran dalam hal produksi dan pemasaran harus memutar otak agar tidak kehilangan pelanggan setianya akibat menaikkan harga jual secara drastis.

Dalam hal produktivitas harian, workshop rumahan ini mampu menghasilkan rata-rata 6 buah kuluk per hari untuk kualitas premium dengan tingkat kerumitan tinggi.

Sementara untuk kualitas kedua atau medium, kapasitas produksinya bisa digenjot mencapai 10 hingga 30 buah per hari.

Nominal harga yang dibanderol sangat variatif dan kompetitif, yakni berkisar dari Rp15 ribu untuk jenis paling ekonomis hingga Rp100 ribu per buah untuk grade tertinggi yang sesuai standar keraton.

Baca Juga: Lokasi Sumur Bor TMMD Kodim 0725 Sragen di Karangmalang Ditanami Bibit Pohon Durian

Sepeninggal sang suami dua tahun lalu, motivasi Sunarni untuk tetap mempertahankan produksi kuluk manten ini tidak semata-mata didasari oleh motif mencari profit finansial belaka.

Ada amanah dan pesan spiritual dari mendiang suaminya yang harus dijaga agar seni kriya pembuatan mahkota yang sesuai standar pakem adat ini tidak punah digilas oleh produk replika pabrikan yang instan.

Sunarni berharap ada intervensi dan perhatian dari pemerintah daerah melalui dinas koperasi dan umkm, baik dalam bentuk subsidi silang bahan baku maupun fasilitasi pameran berskala nasional.

“Kalau bukan kita, siapa lagi. Toh sekarang yang buat ini (kuluk) tidak banyak lagi. Apalagi yang pembuatannya masih pakem,” tuturnya dengan nada penuh harap agar kerajinan khas Banyudono ini tetap lestari di masa depan. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kuluk #umkm pembuatan kuluk manten #desa sambon boyolali #wirausaha #budaya