RADARSOLO.COM-Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali mencatat adanya temuan 51 kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak sejak awal tahun hingga Mei 2026.
Peningkatan aktivitas dan volume lalu lintas perdagangan ternak menjelang Hari Raya Idul Adha diidentifikasi sebagai faktor pemicu utama persebaran virus tersebut.
Baca Juga: Terjaring Razia Skala Besar, Puluhan Pemuda Diminta Tuntun Motor ke Mapolres Sragen
Plt Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, membenarkan terjadinya tren kenaikan temuan kasus penularan penyakit pada hewan ternak tersebut di wilayah kerjanya.
“Nggih, ada peningkatan,” kata Ahmad Gojali, Minggu (24/5/2026).
Gojali menjelaskan, periode awal tahun merupakan fase sibuk (peak season) bagi kalangan peternak domestik untuk mendatangkan serta menyiapkan sapi maupun kambing komoditas kurban.
Aktivitas perdagangan yang padat di sejumlah pasar hewan tradisional, serta maraknya sistem transaksi mandiri secara daring melalui skema Cash on Delivery (COD), memicu tingginya mobilitas ternak keluar-masuk yurisdiksi Boyolali.
“Tingginya lalu lintas ternak 3-4 bulan menjelang Hari Raya Kurban dapat menyebabkan peningkatan kejadian kasus PMK,” lanjut Gojali.
Hingga saat ini, sebaran kasus infeksi PMK terdeteksi di 7 wilayah kecamatan.
Seluruh temuan klinis di lapangan langsung mendapatkan penanganan isolasi dan pengobatan medis oleh petugas kedokteran hewan setelah pemilik ternak memanfaatkan layanan pelaporan cepat melalui Hotline Servis Keswan (Kesehatan Hewan).
Baca Juga: Ruko Tiga Lantai di Solo Baru Ternyata Markas Penipuan Internasional, Tetangga Mengira Kantor Biasa
Sebagai langkah mitigasi guna membentengi populasi ternak yang masih sehat, Disnakkan Boyolali mengintensifkan program penyuntikan vaksin massal ke desa-desa.
Petugas menargetkan pembentukan kekebalan kelompok (herd immunity) pada hewan rentan.
“Per 19 Mei kemarin sudah tercatat 13.500 dosis yang sudah kita suntikkan ke ternak. Kegiatan ini masih tetap berlanjut sampai hari ini,” ujar Gojali.
Secara akumulatif, otoritas peternakan daerah menetapkan target realisasi penyuntikan sebanyak 35 ribu dosis vaksin sepanjang tahun anggaran berjalan, yang mencakup program revaksinasi berkala serta penyuntikan dosis penguat (booster) sebanyak dua kali setahun.
“Untuk total tahun ini kita targetkan sebanyak 35 ribu dosis vaksin dapat disuntikkan ke ternak milik masyarakat Kabupaten Boyolali,” jelasnya.
Selain mengandalkan vaksinasi, pengawasan di pos lalu lintas ternak pasar hewan diperketat dengan menempatkan personel dinas bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskeswan.
Langkah edukasi juga dijalankan secara digital melalui platform Instagram dan TikTok resmi dinas, di samping pembagian lembaran leaflet informasi secara langsung di area pasar hewan.
Setiap komoditas hewan kurban yang diperjualbelikan wajib melewati prosedur pemeriksaan fisik, uji sampel laboratorium, dan verifikasi dokumen riwayat vaksin.
Hewan yang dinyatakan sehat akan mendapatkan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) resmi.
Dokumen tersebut diterbitkan oleh Dokter Hewan Berwenang dan disahkan oleh Pejabat Otoritas Veteriner yang mengantongi Surat Keputusan (SK) dari Bupati Boyolali.
Baca Juga: Persis Solo Degradasi, Wali Kota Respati Ardi Minta Semua Pihak Introspeksi
Kendati terdapat kenaikan grafis kasus, Disnakkan memastikan kondisi epidemiologi tahun ini jauh lebih stabil jika dikomparasikan dengan data akhir 2024 hingga awal 2025.
Pada periode tersebut, Boyolali sempat menghadapi gelombang serangan PMK kedua dengan akumulasi 452 kasus di 16 kecamatan yang mengakibatkan kematian 151 ekor ternak.
“Insya Allah tahun ini lebih terkendali karena kebanyakan ternak kita sudah divaksin sampai dengan booster,” pungkas Gojali. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono