RADARSOLO.COM-Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Boyolali mencatat tren persebaran kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di wilayahnya kini mulai melandai.
Seluruh hewan ternak warga yang sempat terjangkit infeksi PMK dinyatakan sembuh.
Berdasarkan data akumulasi dinas, sebaran kasus PMK sebelumnya terdeteksi di tujuh wilayah kecamatan.
Baca Juga: Tata Cara Sholat Idul Adha 2026 Lengkap dengan Niat, Jumlah Takbir, dan Sunnah yang Dianjurkan
Meliputi Kecamatan Mojosongo, Andong, Sambi, Wonosegoro, Nogosari, Karanggede, dan Tamansari.
Dalam proses penanganan medis di klaster tersebut, terdapat laporan mengenai tiga ekor hewan ternak yang mati.
Kabid Kesehatan Hewan Disnakkan Boyolali Afiany Rifdania menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan klinis di lapangan, kematian tiga ekor ternak tersebut tidak disebabkan secara tunggal oleh virus PMK, melainkan akibat adanya penyakit penyerta (komplikasi).
“Mati ini karena ada infeksi parasit darah juga yang menyebabkan imun turun. Jadi kena serangan PMK dia tidak kuat,” kata Afiany Rifdania, Selasa (26/5/2026).
Guna mengantisipasi adanya serangan gelombang baru, tim dokter hewan dari Disnakkan Boyolali tetap disiagakan melakukan pemantauan berkala di kantong-kantong peternakan, serta mengintensifkan sosialisasi tanggap darurat kepada para pemilik hewan.
Sementara itu, Plt Kepala Disnakkan Boyolali Ahmad Gojali menjelaskan, secara keseluruhan, total temuan kasus PMK di Boyolali sejak Januari hingga Mei 2026 sebanyak 51 kasus.
Munculnya grafik kenaikan kasus pada beberapa bulan lalu berkolerasi langsung dengan fase sibuk perdagangan komoditas hewan kurban menjelang Hari Raya Iduladha.
“Awal tahun 2026 di Kabupaten Boyolali merupakan puncak musim bagi para peternak untuk mempersiapkan ternak yang akan dijual pada musim haji. Hewan yang diperjualbelikan di pasar hewan maupun secara online COD menjadi sangat padat,” urai Ahmad Gojali.
Tingginya frekuensi keluar-masuk kendaraan pengangkut ternak dari luar daerah dalam kurun waktu 3-4 bulan sebelum masa penyembelihan dinilai memperbesar risiko masuknya agen pembawa penyakit ke dalam ekosistem peternakan domestik Boyolali.
Baca Juga: Makam Warga Wonogiri yang Meninggal Tak Wajar di Solo Akhirnya Dibongkar
“Hal tersebut menyebabkan peningkatan kejadian kasus PMK,” tambah Gojali.
Menyikapi melandainya kasus saat ini, Disnakkkan Boyolali meminta para peternak maupun jaringan pedagang tidak mengendurkan penerapan prosedur biosekuriti di area kandang.
Pelaku usaha diwajibkan melakukan skrining kesehatan fisik satwa secara mandiri sebelum melakukan transaksi jual beli. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono