RADARSOLO.COM-Pemkab Boyolali bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyiapkan skema mitigasi berlapis guna menjamin pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga terdampak musim kemarau.
Langkah penanganan yang disiagakan meliputi optimalisasi pemanfaatan potensi sumber air lokal hingga mobilisasi armada truk tangki air menuju ke sejumlah wilayah desa rawan krisis air.
Plt Kalak BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo memaparkan hasil pendataan berkas inventarisasi sumber daya air di wilayah prioritas rawan kekeringan.
Berdasarkan draf pemetaan terbaru, tercatat ada 95 titik sumber mata air aktif yang tersebar secara geografis di enam wilayah kecamatan rawan.
Rincian sebaran titik pasokan air bersih tersebut meliputi:
-
Kecamatan Wonosamodro menempati kuota terbanyak dengan kepemilikan 75 titik mata air.
-
Kecamatan Wonosegoro terdata memiliki 10 titik mata air.
-
Kecamatan Cepogo mengantongi draf sebaran 6 titik mata air.
-
Kecamatan Tamansari tercatat memiliki 3 titik mata air.
-
Kecamatan Juwangi memiliki 1 titik mata air.
“Khusus Kemusu nihil mata air terdata, sehingga sangat bergantung sumur bor, embung, tandon, dan bantuan dropping," kata Ari, Jumat (5/6/2026).
Selain mengandalkan sektor mata air alami, pihak pemerintah daerah juga memaksimalkan fungsi operasional sumur bor, infrastruktur embung, serta fasilitas tandon air kolektif milik pemerintah desa maupun swadaya warga.
Adapun untuk mekanisme penyaluran darurat menggunakan armada truk tangki, BPBD Boyolali memprioritaskan pemulihan pada klaster desa-desa yang masuk dalam draf wilayah langganan krisis air tahunan.
Hingga periode awal Juni ini, kapasitas volume tampungan pada fasilitas embung, waduk, dan telaga dilaporkan masih berada dalam status relatif aman.
Baca Juga: Piala Dunia 2026 Main Jam Berapa Waktu Indonesia? Ini Link Download Jadwal Fase Grup hingga Final
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh masih turunnya curah hujan dengan intensitas rendah dalam beberapa bulan terakhir.
Pemantauan berkala terus dikoordinasikan bersama instansi teknis Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA).
“Data detail kapasitas terus dimonitor agar kita tahu kapan harus intervensi," jelas Ari mengenai draf evaluasi berkala yang dijalankan.
Sebagai langkah preventif jangka panjang, BPBD Boyolali menggalakkan program konservasi lingkungan.
Kerangka kerja yang diusulkan mencakup rehabilitasi lahan kritis, penanaman pohon (penghijauan), proteksi kawasan resapan air, perencanaan pembangunan embung baru.
Baca Juga: Pilot Paralayang Dilatih Hadapi Kondisi Darurat Parasut Utama Mengalami Gangguan di Langit Wonogiri
Serta pengadaan sarana pemanenan air hujan. Kampanye penghematan air domestik juga diintensifkan dengan menggandeng jaringan kader dan organisasi PKK.
“Edukasi penghematan air ke masyarakat juga terus kami masifkan lewat kader dan PKK," tutur Ari terkait gerakan sosialisasi tersebut.
BPBD Boyolali menegaskan bahwa fokus kerja saat ini berpusat pada aspek kesiapsiagaan dan pengawasan ketat terhadap pergerakan dinamika iklim di lapangan.
Berdasarkan draf rilis dataBMKG, siklus musim kemarau pada tahun ini diproyeksikan berjalan dengan durasi waktu yang lebih panjang jika dikomparasikan dengan periode tahun sebelumnya.
Puncak fase kekeringan diestimasikan terjadi pada rentang bulan Juli hingga Agustus, dengan diperkuat oleh adanya pengaruh fenomena El Nino yang memicu kenaikan suhu permukaan air laut serta berdampak langsung pada peningkatan temperatur udara di wilayah daratan. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono