Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Imbas Harga Bahan Baku Melonjak, Perajin di Tumang Cepogo Boyolali Terpaksa Tangguhkan Pesanan dari Malaysia

Abdul Khofid Firmanda Putra • Jumat, 5 Juni 2026 | 18:13 WIB
Perajin kerajinan tembaga di Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali turut terdampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Perajin kerajinan tembaga di Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali turut terdampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Harga bahan baku tembaga turut dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut dirasakan langsung pelaku industri kerajinan logam di sentra kerajinan Tumang, Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Menghadapi situasi itu, para perajin menerapkan strategi penyesuaian harga jual, serta pengurangan ketebalan material guna mempertahankan operasional produksi.

Baca Juga: Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Oman FIFA Matchday Juni 2026 Main Jam Berapa Malam Ini? Misi Cetak Sejarah

Pemilik usaha kerajinan Nuansa Art, Mimi Sri Ningsih menjelaskan, langkah menaikkan harga jual komoditas di tingkat perajin murni ditujukan untuk menutupi selisih harga pembelian bahan baku yang melonjak di pasaran.

Sekaligus menjaga stabilitas internal usaha, komponen upah bagi para pekerja (tukang), dan margin keuntungan pemilik tidak mengalami perubahan.

“Keuntungan enggak naik. Jadi kita menaikkan dari harga bahan baku aja,” kata Mimi Sri Ningsih ditemui di kediamannya di Dukuh Tegalrejo RT 01/RW 09, Desa Tumang, Cepogo, Boyolali, Jumat (5/6/2026).

Mimi memaparkan, dinamika harga komoditas tembaga internasional sangat terikat pada pergerakan nilai tukar dolar.

Berdasarkan catatan pembukuan perajin, akumulasi kenaikan harga bahan baku dalam periode belakangan ini telah mendekati angka 45 persen.

“Dampak (nilai tukar rupiah terhadap) dolar itu sangat berpengaruh sama kerajinan tembaga. Soalnya untuk bahan tembaga itu ada kenaikannya hampir 45 persen," jelasnya.

Baca Juga: Tradisi 1 Suro di Gunung Lawu Diprediksi Membludak, Dua Jalur Pendakian di Karanganyar Diawasi Ketat

"Kita tetap beli (bahan) karena ada orderan. Cuma kita mau ngasih harga tinggi itu agak susah, karena konsumen merasa mahal. Jadi semoga harganya bisa turun, enggak naik terus,” lanjut Mimi.

Secara rinci, harga bahan baku tembaga jenis limbah lokal dilaporkan merangkak naik dari posisi awal Rp90 ribu menjadi Rp200 ribu per kilogram (kg). 

Sementara itu, untuk komoditas tembaga jenis lembaran impor yang semula berada di kisaran harga Rp200 ribuan, saat ini telah menembus angka penjualan Rp300 ribu hingga Rp320 ribu per kg.

Dampak dari lonjakan harga ini mengakibatkan proses negosiasi kontrak kesepakatan dagang dengan pembeli mancanegara berjalan lambat.

Baca Juga: Rambak Wonogiri, dari Lauk di Meja Makan, Kini Jadi Primadona Oleh-oleh

Mimi menyebutkan bahwa satu draf pesanan dari konsumen di negara Malaysia terpaksa masuk dalam status penangguhan sementara akibat ketidaksepakatan nilai penyesuaian harga.

“Kemarin itu ada order dari Malaysia. Sampai sekarang belum jadi karena saya minta kenaikan 10 persen saja dia enggak mau. Jadi, ya udah sementara dipending dulu," tuturnya. 

"Tapi kalau yang memang serius order, itu mereka menyadari. Jadi kita sama-sama. Mereka naik sedikit, kita mengurangi keuntungan, gitu. Jadi sama-sama jalan,” imbuh Mimi.

Selain memotong porsi margin keuntungan, langkah teknis lain yang diambil pelaku usaha tembaga agar nilai produk tetap kompetitif di pasar global adalah dengan menurunkan spesifikasi standar ketebalan pelat tembaga.

Ketebalan material yang dalam kondisi normal menggunakan ukuran dimensi 0,8 mm, kini disesuaikan secara bervariasi menjadi 0,7 mm hingga 0,6 mm.

Pihak perajin memberikan konfirmasi bahwa pengurangan ketebalan pelat tersebut tidak mengonversi daya tahan struktural jangka panjang dari hasil kerajinan.

Baca Juga: Data Penerima Bansos di Sragen Dinilai Tak Valid: Orang Meninggal Masih Tercatat, Warga Antre hingga Sore

Melainkan hanya memberikan pengaruh visual pada kedalaman aspek pahatan atau tekstur ketokan ornamen logam.

“Kalau kualitas enggak (berkurang). Cuma kalau pengaruhnya itu ini, tekstur ketokannya. Kalau lebih tebal itu kan lebih dalam ya,Tapi kalau tipis, itu ya samar-samar (ketokannya),” pungkas Mimi. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#tumang cepogo boyolali #harga bahan baku tembaga #pesanan dari malaysia #nilai tukar rupiah #kerajinan tembaga