RADARSOLO.COM - Boyolali Heritage Society (BHS) menggelar diskusi ringan, Jumat malam (5/6), membahas peralihan bentuk candi ke nisan.
Diskusi ini mengupas korelasi historis antara peradaban candi Masa Klasik Hindu-Buddha, dengan tradisi nisan kijing Masa Islam Mataram.
Ketua BHS Yosep Kustono menjelaskan, kajian akademis menyebut nisan di Jawa tidak berdiri sendiri.
Bentuknya punya korelasi erat dengan candi sebelumnya, sehingga garis sejarah kebudayaan tidak terputus.
“Secara historis, para akademisi menyebutkan adanya Candi Persembahan atau Candi Pendharmaan. Candi-candi berukuran kecil tersebut sejatinya dibuat sebagai penanda makam untuk menghormati tokoh-tokoh besar, seperti para resi,” ujar Yosep kepada Jawa Pos Radar Solo.
Seiring peralihan zaman dari Masa Klasik ke Masa Islam Mataram, tradisi itu beradaptasi.
Candi tetap jadi penanda makam tokoh, tapi bentuknya mengecil dan bergaya baru. Pada periode inilah penggunaan nisan mulai marak sebagai turunan konsep candi pendharmaan.
“Melalui diskusi ini, BHS ingin mengedukasi masyarakat luas agar pemahaman sejarah kita tidak terputus,” katanya.
BHS membeberkan detail simbolisme pada nisan batu kijing. Nisan kuno merepresentasikan periode waktu, bentuk jirat, dan ketokohan orang yang dimakamkan.
Meski tidak mencantumkan nama eksplisit, simbol pahatan jadi penanda status sosial.
Yosep merinci, ada tiga simbol yang sering ditemukan. Yakni simbol Bulan Bulat Purnamasidi, Simbol Tumbakan Tombak dengan Bulan Sabit, serta Simbol Matahari.
Menurutnya, simbol-simbol itu menandakan almarhum adalah tokoh penting pada masanya, baik tokoh ilmu pengetahuan, spiritual, maupun pengobatan.
“Nisan kuno Boyolali dikategorikan nisan batu karena memakai batu andesit dan batu putih batu kapur. Batu kapur khas penanda makam Mataram Islam banyak tersebar seperti di Bayat,” lamjutnya.
Menariknya, Boyolali tidak punya sumber batu kapur tapi nisan batu putih banyak ditemukan di sana.
Yosep melanjutkan, ini jadi tanda hubungan keguruan. Nisan batu putih periode sama juga tersebar di Sragen, Purwodadi, hingga Yogyakarta, menandakan mereka satu lingkaran komunitas budaya.
Diskusi didukung Komunitas Kandang Kebo dari Jogja-Klaten, komunitas seni budaya, ketoprak, seni rupa, hingga komunitas lokal. Pesertanya juga datang dari Boyolali, Yogyakarta, Solo, hingga Salatiga.
“Tema nisan ini kelanjutan diskusi Komunitas Teater Sewengi yang kemudian diperluas BHS. Bagi BHS, diskusi rutin sudah jadi agenda harian untuk menjaga kelestarian sejarah,” tuturnya.(fid)
Editor : Nur Pramudito