Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kabar Baik dari Merbabu: Sempat Dilanda Kebakaran, Populasi Surili Jawa Kini Terpantau Ada 37 Ekor

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 10 Juni 2026 | 11:43 WIB
Surili Jawa (Presbytis fredericae) terpantau di hutan pegunungan Gunung Merbabu. (DOK.BTNGMb)
Surili Jawa (Presbytis fredericae) terpantau di hutan pegunungan Gunung Merbabu. (DOK.BTNGMb)

RADARSOLO.COM - Populasi primata endemik Surili Jawa (Presbytis fredericae) di kawasan Gunung Merbabu terpantau masih terjaga dengan baik.

Meskipun sempat terdampak rentetan peristiwa kebakaran hutan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan hasil pemantauan berkala, kondisi habitat hutan pegunungan Gunung Merbabu  mulai menunjukkan fase pemulihan vegetasi secara alami.

Baca Juga: Harga BBM Pertamax Naik Hari Ini, Begini Cara Daftar Subsidi Tepat MyPertamina

Data pemantauan terbaru yang dirilis oleh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), tercatat 37 ekor Surili Jawa yang tersebar di beberapa titik habitat krusial.

Kehadiran primata pelindung ini menjadi parameter penting bagi tingkat kesehatan ekosistem konservasi pegunungan.

Kepala BTNGMb Anggit Haryoso menyampaikan, bahwa keberadaan satwa liar endemik Pulau Jawa ini sangat bergantung pada kelestarian hutan pegunungan yang sehat dari intervensi aktivitas manusia maupun bencana alam.

“Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” kata Anggit Haryoso, Rabu (10/6/2026).

Salah satu kantong sebaran habitat utama Surili Jawa berada di bawah pengelolaan wilayah Resor Selo.

Di dalam area stasiun pengamatan yang mencakup luasan sejauh 96 hektare, tim pencatat mendeteksi keberadaan 16 ekor Surili Jawa, di mana kelompok koloni terbesar berjumlah 13 ekor.

Baca Juga: Pernah Dibantai Persak Kebumen 0-3, eks Bek Persis Solo Justru Yakin Persiharjo Sukoharjo Bakal Balas Dendam di Liga 4 Nasional

Petugas di lapangan mengonfirmasi bahwa struktur kelompok yang terpantau terdiri dari kombinasi fase usia individu dewasa, remaja, hingga kategori anakan.

Keberadaan kelompok usia anakan tersebut mengindikasikan bahwa proses siklus reproduksi primata di habitat Gunung Merbabu masih berjalan secara normal dan berkelanjutan.

Manajemen BTNGMb mengidentifikasi bahwa faktor kunci dari bertahannya populasi Surili Jawa dipengaruhi oleh pulihnya ketersediaan tanaman pakan pasca-kebakaran hutan hebat yang terjadi pada tahun 2019 silam.

Komoditas vegetasi jenis kemlandingan gunung terpantau sudah kembali tumbuh subur dan mendominasi sejumlah blok hutan setempat.

Baca Juga: Kapan BLT Kesra Rp900 Ribu Cair di Tahun 2026? Berikut Cara Cek Nama Penerima dan Syaratnya

“Vegetasi ini tidak hanya jadi sumber pakan utama Surili Jawa, tapi juga dimanfaatkan Lutung Budeng sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Pemulihan vegetasi pasca kebakaran menjadi bagian penting menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan,” urai Anggit.

Konsistensi penjagaan kawasan hutan lindung menjadi instrumen mutlak agar seluruh spesies satwa liar endemik tetap memiliki ruang hidup yang aman dari potensi kepunahan.

“Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang," jelasnya.

"Keberadaan Surili Jawa di Gunung Merbabu menjadi simbol bahwa alam yang dijaga dengan baik akan tetap mampu menopang kehidupan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang,” pungkas Anggit. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#surili jawa #Balai Taman Nasional Gunung Merbabu #gunung merbabu #BTNGMb #satwa