Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Siasat Perajin Keripik Premium di Mojosongo Boyolali Hadapi Lonjakan Harga Minyak Goreng dan Plastik Kemasan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Rabu, 10 Juni 2026 | 13:22 WIB
Perajin keripik kemasan premium di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali terdampak tingginya harga minyak goreng dan plastik. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Perajin keripik kemasan premium di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali terdampak tingginya harga minyak goreng dan plastik. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Kenaikan harga minyak goreng dan plastik kemasan berdampak pada margin operasional pelaku UMKM.

Menyiasati kondisi tersebut, perajin keripik kemasan premium di Desa Singosari, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, menerapkan strategi penyesuaian gramasi, serta penekanan keuntungan demi menjaga kelangsungan usaha.

Diana, pemilik usaha keripik premium menjelaskan, hampir seluruh komponen bahan baku utama seperti minyak goreng kemasan, tepung, dan plastik pembungkus mengalami lonjakan harga. 

Baca Juga: Mengulas Format Baru Piala Dunia 2026: Turnamen Lebih Besar dengan Peluang Kejutan Lebih Banyak

Untuk menghindari penurunan kualitas produk yang dapat mengecewakan konsumen, Diana memilih memotong margin laba bersih perusahaan dan mengurangi bobot isi produk pada kemasan ritel.

“Tapi untuk kualitasnya tetap terjaga,” kata Diana, Rabu (10/6/2026).

Diana telah merintis usaha pembuatan keripik usus, keripik kulit, dan keripik jamur sejak 2015 dengan membidik pangsa pasar kelas menengah ke atas.

Karakteristik premium pada produknya dipertahankan melalui draf teknis produksi yang ketat.

Seperti menipiskan adonan tepung secara manual serta berkomitmen hanya menggunakan minyak goreng kemasan pabrikan, bukan jenis minyak goreng curah.

Meskipun daya beli masyarakat secara umum dilaporkan sedang mengalami penurunan, volume permintaan dari jaringan penjualan kembali (reseller) diklaim masih berada dalam kondisi stabil.

Baca Juga: Jawab Keluhan Warga Soal Naiknya Harga Sembako, Pemerintah Kecamatan Gantiwarno Gelar Gerakan Pangan Murah

Dalam skema operasional harian, rumah produksi ini mampu mengolah 50-70 kilogram (kg) bahan baku per hari, atau setara dengan akumulasi lebih dari 200 kg dalam sepekan.

Pada masa awal operasional, Diana sempat memasarkan produknya dengan metode keliling di pasar-pasar tradisional.

Namun, karena harga jual produk premium dinilai tidak sesuai dengan daya beli konsumen pasar tradisional, ia mengalihkan fokus orientasi pasar menuju jaringan toko oleh-oleh, swalayan, serta pemesanan grosir dari luar daerah.

“Kalau di awal-awal itu masih keliling pasar, ya. Tapi karena produk saya itu premium, jadi untuk harganya enggak begitu masuk di pasaran. Jadi kita fokusnya di toko oleh-oleh, swalayan, sama di beberapa reseller yang di luar kota,” urai Diana.

Baca Juga: Celebest FC Pasang Target Tinggi di Boyolali, Persada Sumba Barat Daya Jadi Korban Pertama, Setelah Itu Persebi dan Wamena United Jadi Target Selanjutnya

Untuk keperluan distribusi di pusat oleh-oleh, Diana menyediakan kemasan ukuran 200 gram yang dibanderol dengan harga kisaran Rp17.000.

Sementara untuk jalur reseller luar kota, sistem penjualan dilayani menggunakan kemasan bal berkapasitas 3 kilogram, dengan rincian harga per kilogram Rp80.000 untuk keripik usus, Rp100.000 untuk keripik jamur, dan Rp125.000 untuk komoditas keripik kulit.

Listi, salah satu mitra reseller menyatakan bahwa loyalitas konsumen terhadap produk keripik ini cukup tinggi karena faktor keunggulan rasa, sehingga memicu adanya siklus pembelian berulang (repeat order).

“Konsumen itu yang ngerasain itu, Kak. Jadi kan kalau sudah beli kan dia bilang, ‘Mbak keripiknya kok enak gitu,” tutur Listi. (fid)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#harga plastik #perajin keripik premium #usaha keripik di Mojosongo Boyolali #Harga Minyak Goreng