Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Musim Kemarau Rawan ISPA, Waspadai Tanda Bahaya pada Anak

Abdul Khofid Firmanda Putra • Jumat, 12 Juni 2026 | 13:58 WIB
ILUSTRASI,Musim Kemarau Rawan ISPA, Waspadai Tanda Bahaya pada Anak (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
ILUSTRASI,Musim Kemarau Rawan ISPA, Waspadai Tanda Bahaya pada Anak (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Boyolali mengimbau orang tua, untuk waspada terhadap Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) pada anak saat musim kemarau.

Udara kering, debu, dan penggunaan AC berlebihan membuat anak lebih rentan terinfeksi virus pernapasan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, FX Kristandiyoko, menjelaskan ISPA adalah infeksi di hidung, tenggorokan, bronkus, atau paru yang berlangsung kurang dari 14 hari.

Penyebab paling sering virus seperti rhinovirus, RSV, influenza, dan adenovirus, serta bakteri.
  
Menurut Kristandiyoko, ada 3 faktor utama yang memicu kenaikan kasus ISPA saat kemarau.

Seperti udara kering bisa membuat lapisan lendir pelindung di hidung dan tenggorokan kering.

“Jadi virus gampang masuk. Debu dan partikel PM2.5 naik. Anak hirup lebih banyak partikel, saluran napas jadi iritasi dan meradang. Anak lebih banyak main di dalam ruangan ber-AC, udara tertutup juga membuat virus lebih gampang menular,” jelas Kris kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dia menambahkan, pemicu terberat adalah asap pembakaran lahan, disusul polusi kendaraan/pabrik, lalu debu rumah. 

Asap yang mengandung partikel sangat halus, disertai zat kimia iritan bisa langsung merusak saluran napas.

Kemudian saat kemarau, polusi juga buruk karena PM2.5 masuk sampai ke paru.

Dinkes Boyolali meminta orang tua tidak menunda ke fasilitas kesehatan jika anak menunjukkan gejala berat.

Ciri-cirinya yakni napas sangat cepat sesuai usia, dada tertarik ke dalam, bibir kuku kebiruan, tidak mau minum, muntah semua, kesadaran menurun, dan demam lebih dari 39 derajat Celcius tidak turun dengan obat.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan, dengan menaruh baskom air di kamar, pel lantai 2x sehari pakai kain basah, jemur bantal tiap hari.

Hindari kipas/AC langsung ke muka anak untuk menghindari ruangan lembab.

Menggunakan masker penting untuk anak diatas 2 tahun saat udara berdebu.

Gunakan masker medis jenis KN95 anak. Bayi kurang dari 2 tahun jangan pakai masker, cukup hindari luar rumah saat polusi tinggi.

“Segera periksa kalau batuk pilek lebih dari 7 hari tidak membaik, demam 38.5°C lebih dari 3 hari, batuk sampai muntah atau sesak, ada riwayat asma, berat badan rendah, atau usia kurang dari 3 bulan,” imbaunya.

Kristandiyoko membagikan langkah pencegahan yang bisa dilakukan di rumah agar anak tidak terserang ISPA saat kemarau.

Yakni dengan menjaga kelembapan, memakai masker, memperkuat daya tahan tubuh, serta melengkapi imunisasi.

Untuk penanganan awal batuk pilek di rumah, Kristandiyoko menyarankan bersihkan hidung pakai NaCl tetes, banyak minum air hangat, uap air hangat 10 menit 2 kali sehari, dan madu 1 sendok teh untuk anak kurang dari 1 tahun. 

“Jangan langsung kasih antibiotik tanpa resep dokter. ISPA paling sering karena virus,” tegasnya.

Dinkes Boyolali memastikan puskesmas dan RS siap melayani jika ada lonjakan kasus ISPA selama musim kemarau ini.(fid)

Editor : Nur Pramudito
#Boyolali #dinkes boyolali #ispa