RADARSOLO.COM- Event akbar Boyolali Night Carnival dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-179 Kabupaten Boyolali sukses diselenggarakan, Sabtu (13/6/2026) malam.
Meskipun area perayaan sempat diguyur hujan deras pada awal pembukaan acara, situasi tersebut tidak menyurutkan antusiasme para peserta pawai maupun ribuan masyarakat yang memadati jalanan.
Warga dilaporkan telah memadati dan berjejer di sekitar kawasan ikonik Simpang Siaga Kabupaten Boyolali sejak sore hari untuk menantikan kedatangan iring-iringan kontingen.
Baca Juga: Pererat Kemanunggalan TNI-Rakyat, Kodim 0723/Klaten Gelar Nobar Piala Dunia 2026
Dalam karnaval malam ini, sebanyak 22 kecamatan di seluruh Kabupaten Boyolali turut serta mengirimkan perwakilannya dengan menampilkan visualisasi keunggulan daerah yang dibalut pertunjukan tari-tarian hingga fragmen cerita kolosal.
Ketua Seksi Karnaval HUT ke-179 Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengungkapkan, animo publik terhadap penyelenggaraan Boyolali Night Carnival edisi tahun ini berada di luar ekspektasi kepanitiaan.
“Ini kan yang pertama kali, antusiasmenya luar biasa. Walaupun diguyur hujan, tapi ini menambah suasana lebih berkah dan syahdu. 22 kecamatan menampilkan potensi dari masing-masing kecamatannya, bagaimana kita merajut budaya yang ada di Kabupaten Boyolali kita harus,” kata Ari.
Adapun penentuan konsep dan tema pertunjukan diserahkan sepenuhnya kepada kreativitas masing-masing wilayah kecamatan, dengan syarat mutlak berfokus pada pengangkatan identitas dan kearifan budaya lokal.
“Tentunya ini kita kembalikan ke masing-masing dengan tema budaya. Silakan masing-masing kecamatan mengangkat budayanya masing-masing bagaimana mengembangkan, dan kita publikasikan bahwa Boyolali kaya budaya,” urai Ari.
Pemaparan karakteristik wilayah tercermin dari beberapa penampilan khusus, seperti kontingen Kecamatan Banyudono yang mengemas komoditas hasil pertanian dalam balutan koreografi seni.
Sementara itu, Kecamatan Selo menyajikan seni pertunjukan Tari Bregodo, dan Kecamatan Ngemplak mengangkat visualisasi potensi sektor pariwisata Waduk Cengklik.
Selain berfungsi sebagai sarana hiburan rakyat dan pelestarian adat, pelaksanaan karnaval seni ini terbukti memberikan dampak berganda (multiplier effect) terhadap perputaran roda ekonomi daerah.
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner maupun jasa jajanan di sepanjang rute pawai dilaporkan mengalami lonjakan penjualan karena diserbu oleh para pengunjung yang datang.
Mengevaluasi tingginya tingkat partisipasi masyarakat pada gelaran perdana ini, Pemkab Boyolali melalui kepanitiaan membuka peluang besar untuk memproyeksikan kegiatan karnaval malam ini sebagai agenda kalender wisata rutin tahunan.
“Tentunya ini menjadi semangat bagi Pemerintah Kabupaten Boyolali untuk terus mengadakan event-event memberikan hiburan kepada masyarakat, sekaligus kita bagaimana melestarikan budaya yang ada,” pungkas Ari Wahyu Prabowo. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono