Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Suhu Puncak Merbabu Diprediksi Drop di Bawah 5 Derajat, BTNGMb Minta Pendaki Waspada Musim Bediding

Abdul Khofid Firmanda Putra • Minggu, 14 Juni 2026 | 13:56 WIB
Ilustrasi para pendaki Gunung Merbabu via Selo
Ilustrasi para pendaki Gunung Merbabu via Selo

RADARSOLO.COM- Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) menerbitkan imbauan resmi bagi para pendaki untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap draf risiko kesehatan akibat penurunan suhu ekstrem.

Kepala BTNGMb Anggit Haryoso meminta seluruh wisatawan dan pendaki gunung mempersiapkan perlengkapan proteksi tambahan guna menghindari ancaman penyakit hipotermia di sepanjang jalur pendakian.

Anggit menjelaskan, kondisi atmosfer di kawasan lereng dan puncak Gunung Merbabu saat ini telah memasuki fase transisi iklim dari musim penghujan menuju musim kemarau atau kerap disebut sebagai fenomena bediding.

Baca Juga: Tragis, Pemuda Asal Sragen Kulon Tewas Disambar KA Malioboro Ekspres di Beloran

Karakteristik masa pancaroba ini ditandai dengan penurunan tingkat kelembapan serta anjloknya suhu udara secara drastis, khususnya pada rentang waktu malam hingga dini hari.

“Bahwa sekarang kita memasuki masa pancaroba, yang ditandai dengan suhu yang sangat ekstrem. Kalau malam itu kita akan merasakan udara yang lebih dingin dari biasanya, dan biasanya juga akan muncul embun es pada saat-saat tertentu,” kata Anggit, Minggu (14/6/2026).

Kalkulasi suhu udara di area elevasi puncak Merbabu selama musim bediding diproyeksikan dapat menyentuh angka di bawah 5 derajat Celsius.

Kondisi termal tersebut berpotensi memicu terbentuknya fenomena kristal es atau warga lokal mengenalnya dengan sebutan draf embun upas di vegetasi bagian atas gunung.

Fenomena alam ini umumnya memiliki durasi siklus berkisar satu bulan pada awal masa pancaroba.

“Ini biasanya 1 bulan pertama ya, sebelum memasuki kemarau yang sudah pasti, atau tepat di kemaraunya. Biasanya ini berlangsung sekitar 1 bulan,” urai Kepala BTNGMb.

Baca Juga: Bagaimana Tiyo, Mantan Ketua BEM UGM Bisa Menyadari Ada Alat Pelacak PBX Finder yang Diduga Dipasang Orang Tak Dikenal di Mobilnya?

Guna meminimalkan insiden kedaruratan medis akibat udara dingin, BTNGMb mewajibkan para pendaki membawa kelengkapan logistik dan pakaian hangat berlapis.

Beberapa perlengkapan penting yang harus dipenuhi meliputi penambahan jaket tebal, selimut hangat, pelindung kepala atau kupluk, serta kaus kaki cadangan.

Anggit memberikan catatan evaluasi bahwa rentetan kasus hipotermia yang menimpa sejumlah pendaki dalam beberapa waktu terakhir tidak murni disebabkan oleh faktor perubahan iklim makro semata.

Berdasarkan data di lapangan, faktor kelelahan serta draf kelalaian pendaki dalam mengukur draf ambang batas daya tahan tubuh menjadi faktor kontributor utama.

Baca Juga: Diguyur Hujan Deras, Event Perdana Boyolali Night Carnival Sedot Perhatian Ribuan Warga

“Kalau hipotermia sebelumnya ini bukan karena peralihan musim nggih (ya), tapi memang bisa jadi karena kelelahan, gitu. Jadi selama ini yang terjadi hipotermia yang sekarang ada ini, bukan karena apa namanya peralihan musim, tapi karena memang mungkin persiapan dari daya tahan tubuhnya juga kurang,” kata Anggit.

Untuk memantau fluktuasi perubahan elemen cuaca di kawasan pegunungan secara berkala, pihak internal manajemen BTNGMb terus melakukan koordinasi dan merujuk pada basis data informasi resmi yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), khususnya melalui stasiun meteorologi Semarang. (fid)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#dingin #bediding #gunung merbabu #BTNGMb #cuaca ekstrem