RADARSOLO.COM– Masyarakat Dukuh Kapurancak RT 03, Desa Kopen, Kecamatan Teras, Boyolali kembali menggelar Tradisi "Ruwat Rawat Rancak Gringsingan".
Acara yang sempat vakum itu digelar Senin (15/6/2026) malam memperingati malam 1 Suro.
Setelah sempat vakum karena pandemi, kirab malam 1 Suro dimunculkan lagi sebagai bentuk meruwat, merawat desa, dan tolak bala.
Baca Juga: Cukup Menanam Dua Bulan Saja, BUMDes di Nguter Sukoharjo Sudah Panen Melon Sweet Lavender
Ketua penyelenggara acara Farid Burhanuddin menjelaskan makna filosofis acara tersebut.
Rancak Gringsingan dimaknai sebagai sebuah keteraturan.
“Gringsingan itu adalah penawar dari sebuah luka. Rancak Gringsingan ini dilakukan sebagai sebuah cara meruwat dan merawat, dan juga tolak bala yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kopen, tepatnya Dukuh Kapurancak,” jelas Farid.
Sebelum kirab, warga melakukan gotong royong bersih-bersih desa dan Umbul Sumber.
Kegiatan dilanjutkan kirab keliling kampung sambil berzikir, dan menabuh alat pertanian sebagai simbol penjagaan semesta, sawah, dan umbul pada malam hari.
Kirab dilakukan mengelilingi kampung, hingga menuju sumber mata air tertua di Desa Kopen, yakni Umbul Sumber.
Baca Juga: Perempuan dan Anak Di Sukoharjo Rentan Jadi Korban Kekerasan, Januari-Mei 2026 Ada Temuan 81 Kasus
“Kita juga ke salah satu mata air tertua di Desa Kopen. Di mana di situ dipercaya sebagai umbul pertama. Dan ini tadi kita sedekah air di situ supaya airnya dan juga mata airnya bisa muncul kembali dan lebih baik lagi,” ujar Farid.
Selama kirab, peserta tidak memakai sandal dan membawa obor.
Farid mengatakan, tidak memakai sandal dimaknai membumi atau menyatu dengan alam.
Lalu membawa obor berarti penerangan, sebagai sebuah simbol penerangan dalam hidup.
Puncaknya, penerangan rumah dimatikan selama kegiatan kirab sebagai simbol tapa bisu pati geni.
Baca Juga: Jateng Jadi Provinsi dengan Sertifikasi Tanah Wakaf Tertinggi Nasional
Suasana kampung yang gelap gulita, serta hanya dihiasi obor dan lantunan salawat, membuat perayaan semakin hikmat.
“Maknanya bahwasanya kita akan menyatu, bahwasanya manusia akan kembali pada kegelapan, akan dibumikan. Jadi lebih pada penerangannya dimatikan secara artistik juga akan bagus. Jadi lebih pada tapa bisu pati geni,” tambahnya.
Selama perjalanan, warga juga memanjatkan doa. Berupa salawat, istigfar, dan lainnya.
Selain itu, sedekah air diwujudkan lewat sedekah bumi berupa makanan, dan jajanan pasar khas kebudayaan Jawa.
Usai kirab, warga bersama-sama menyantap tumpeng berjumlah ganjil yang sudah disediakan sebelumnya.
“Kalau acaranya ini dulu digelar setiap tahun. Tapi karena dulu ada Covid, akhirnya sempat berhenti dan ini dimunculkan kembali. Setiap 1 Muharram pasti diadakan yang namanya kirab ataupun tapa bisu,” jelas Farid.
Zaky, pemuda dusun setempat mengatakan, dia tertarik dan ikut bangga dengan digelarnya tradisi ini.
Menurutnya, banyak anak muda yang sudah jauh dari tradisi nenek moyang di desa sendiri.
Kegiatan ini bisa menjadi pengingat untuk melestarikan kebudayaan. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono