RADARSOLO.COM- Pemkab Boyolali mempercepat langkah antisipasi guna menghadapi puncak musim kemarau tahun 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapsiagaan Menghadapi Puncak Musim Kemarau secara daring melalui aplikasi Zoom, Kamis (18/6/2026).
Melibatkan unsur TNI, Polri, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), pemerintah kecamatan, relawan, hingga sektor swasta.
Rakor dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawalludin dengan fokus utama memperkuat sinergi lintas sektor guna menghadapi potensi bencana kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang diproyeksikan mengalami peningkatan signifikan tahun ini.
Syawalludin memaparkan, berdasarkan hasil prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena iklim El Nino diproyeksikan akan berlangsung mulai bulan Juli 2026 hingga awal tahun 2027 dengan kategori moderat hingga kuat.
Tingkat peluang kejadian tersebut diperkirakan mencapai angka 95 hingga 98 persen.
“Penanganan bencana merupakan urusan kemানুsiaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Oleh karena itu sinergi, kolaborasi, dan gotong royong seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menghadapi ancaman kekeringan dan karhutla,” kata M. Syawalludin.
BMKG Jawa Tengah melansir informasi bahwa sebanyak 40 Zona Musim (ZOM) di wilayah Jawa Tengah saat ini telah resmi memasuki fase kemarau, dengan proyeksi sifat curah hujan di Kabupaten Boyolali berada di bawah batas normal.
Durasi kemarau diperkirakan berlangsung selama 13 hingga 21 dasarian, sedangkan titik puncak kemarau diprediksi jatuh pada periode Juli-September 2026.
BMKG turut mengeluarkan draf peringatan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Tengah saat ini masuk dalam kategori kawasan yang “sangat mudah terbakar” akibat terjadinya kekeringan pada lapisan tanah.
Pihak BMKG merekomendasikan penguatan kesiapsiagaan, penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering, pengoptimalan diseminasi informasi cuaca, serta langkah antisipasi dini terhadap ancaman krisis air bersih.
Fluktuasi Distribusi Air dan Mitigasi Lapangan
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, menjelaskan bahwa tingkat kebutuhan draf pasokan air bersih di lapangan sangat bergantung pada eskalasi intensitas kemarau tahunan.
Baca Juga: Tanpa Pemberitahuan, Pemadaman Listrik di Pusat Kota Klaten Bikin Pelaku Usaha Khawatir
Berdasarkan draf rincian data penyaluran bantuan air bersih oleh BPBD Boyolali dari tahun ke tahun tercatat:
-
Tahun 2022: Penyaluran sebanyak 72 tangki air bersih untuk 14 desa di 6 kecamatan.
-
Tahun 2023: Mengalami lonjakan puncak mencapai 1.193 tangki untuk menjangkau 49 desa di 13 kecamatan.
-
Tahun 2024: Mengalami penurunan menjadi sebanyak 376 tangki untuk 31 desa.
-
Tahun 2025: Tercatat baru menyalurkan 24 tangki yang dialokasikan bagi 7 desa.
“Data ini menunjukkan perlunya penguatan mitigasi, optimalisasi sumber air, dan koordinasi lintas sektor agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi,” urai Ari Wahyu Prabowo, Minggu (21/6/2026).
Sebagai langkah taktis pencegahan di kawasan hutan, Balai Taman Nasional (TN) Gunung Merapi dan Merbabu melaporkan telah menyiagakan sedikitnya 210 orang personel yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api.
Kelompok ini intensif menggelar patroli berkala bersama Polisi Hutan (Polhut) serta memaksimalkan penggunaan perangkat kamera pengawas (CCTV) di sepanjang rute jalur pendakian.
Pemkab Boyolali berencana mengusulkan draf penetapan Status Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla melalui penerbitan Keputusan Bupati.
Bersamaan dengan kebijakan tersebut, Posko Kesiapsiagaan Bencana juga didirikan di Kantor BPBD Boyolali untuk difungsikan sebagai pusat kendali koordinasi, pemantauan, serta saluran informasi publik.
Pemkab meminta warga untuk menggunakan cadangan air secara bijak, menjaga kelestarian sumber air, menghindari aktivitas pembakaran lahan atau sampah secara sembarangan, serta segera melapor ke petugas jika mendapati indikasi kekeringan atau peristiwa karhutla di areanya. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono