Baca Juga: Gencarkan Pemberantasan Narkoba, Polres Klaten Ungkap 15 Kasus dan 23 Tersangka dalam 4 Bulan
Sebagai langkah awal, sosialisasi Hasil Penelitian Saninten dan Tungurut (Castanopsis tungurrut) di Pulau Jawa telah digelar di Dusun Guolelo, Desa Ngagrong, wilayah kerja Resor Ampel, Boyolali.
Kegiatan ini melibatkan 35 peserta dari unsur pengelola kawasan, pemerintah desa, hingga kelompok masyarakat mitra konservasi dari berbagai dusun serta Kelompok Pemanfaat Air (KPA) Lumintu dan Dharma Tirta.
Saninten bukan sekadar komponen pengisi ekosistem hutan pegunungan bawah biasa.
Flora asli Pulau Jawa dan Sumatera ini dijuluki sebagai "Kastanye Jawa" karena menghasilkan biji gurih menyerupai kacang kastanye yang berpotensi tinggi sebagai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
Secara ekologis, Saninten memiliki fungsi yang sangat vital, antara lain:
-
Benteng Alami: Memiliki struktur akar tunggang yang sangat kokoh untuk mengikat tanah.
-
Mitigasi Bencana: Berperan efektif dalam menahan erosi dan mengurangi risiko tanah longsor.
Namun, keberadaan pohon ini kini berada di ambang kritis.
Berdasarkan Red List IUCN, Saninten masuk dalam kategori Endangered (EN) atau terancam punah.
Di dalam negeri, status pohon ini dilindungi berdasarkan Permen LHK Nomor 106 Tahun 2018.
Peneliti dari Universitas Tsukuba, Alnus Meinata, memaparkan fakta bahwa dari total 34 jenis Castanopsis di kawasan Malesia, sebanyak 24 jenis di antaranya tumbuh di Indonesia.
Namun, populasi Saninten terus mengalami penurunan persebaran dan trennya semakin bergeser ke arah timur Pulau Jawa.
"Kabar baiknya, hasil kajian kami menegaskan bahwa Gunung Merbabu memiliki tingkat kesesuaian habitat yang sangat baik bagi keberlanjutan populasi Saninten," jelas Alnus, Selasa (23/6/2026).
"Di kawasan ini, Saninten mampu bertahan dengan optimal, terutama di area lereng timur pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl)," lanjutnya.
Plh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I BTNGMb Kurnia Adi Wirawan menegaskan bahwa pihaknya akan mengadopsi data riset dari Universitas Tsukuba sebagai cetak biru program konservasi.
Kurnia juga mengimbau warga lokal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat memasuki musim kemarau.
Baca Juga: Targetkan 2027, Pemkab Klaten Kejar Status Kawasan Cagar Alam Geologi Bayat Menuju Geopark
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Pertama BTNGMb Agus Sugianto mengungkapkan, saat ini upaya perlindungan secara intensif dipusatkan di Resor Ampel melalui beberapa program konkrit:
-
Demplot Konservasi Indukan Saninten: Dibangun di atas area perlindungan seluas 11,8 hektare di blok Guolelo dan Ganduman, yang menjaga 56 pohon induk asli sebagai sumber bibit berkualitas.
-
Demplot Persemaian Vegetatif: Berhasil mengonservasi 245 bibit hasil teknik vegetatif cangkok untuk stok restorasi. Riset membuktikan metode cangkok memiliki tingkat keberhasilan jauh lebih tinggi dibanding stek atau penyemaian biji konvensional.
-
Pengamanan Intensif: Melakukan pemantauan populasi secara berkala serta patroli perlindungan habitat dari pembalakan atau pengrusakan.
Sebagai rekomendasi jangka panjang, Universitas Tsukuba mendorong pengembangan Balai TN Gunung Merbabu menjadi pusat konservasi ex-situ melalui pembangunan Arboretum Saninten.
Baca Juga: Tanggapan Jokowi usai Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan Kejaksaan
Fasilitas ini nantinya diproyeksikan menjadi pusat koleksi sekaligus edukasi berbagai jenis Castanopsis nusantara.
-
Miliki Akar Kokoh Penahan Longsor, Populasi 'Kastanye Jawa' di Gunung Merbabu Kini Dilindungi
-
Pakar Sebut Lereng Timur Gunung Merbabu Jadi Habitat Terbaik untuk Kelangsungan Saninten
-
Gunakan Metode Cangkok, Resor Ampel Boyolali Sukses Semai Ratusan Bibit Saninten Langka
-
Rekomendasi Peneliti Jepang: TN Gunung Merbabu Berpotensi Jadi Pusat Arboretum Saninten. (fid)