RADARSOLO.COM - Tingginya angka kematian jemaah haji Indonesia 2026 menjadi perhatian serius pemerintah.
Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan, pembenahan aspek kesehatan jemaah jadi prioritas utama penyelenggaraan haji tahun mendatang.
Hal itu disampaikan Dahnil setelah menyambut kedatangan jemaah haji Kloter 66 di Asrama Haji Donohudan, Ngemplak, Boyolali, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, pemerintah akan memperketat syarat istithaah atau kemampuan berhaji untuk menekan angka kematian di Tanah Suci.
“Tahun depan kami pasti akan lebih perketat,” tegas Dahnil usai menyambut jemaah, Rabu (24/6).
Dahnil mengungkapkan, jumlah jemaah haji yang meninggal dunia secara nasional hingga saat ini sudah lebih dari 300 orang.
Sementara di Jawa Tengah, jumlah jemaah yang wafat bahkan mencapai lebih dari 50 orang.
“Jawa Tengah misalnya jumlah yang wafat sudah 50-an lebih. Artinya tahun depan harus lebih kecil, kalau perlu tidak ada yang wafat,” ujarnya.
Dia menyebut, angka kematian jemaah haji tertinggi berasal dari Jawa Timur, kemudian disusul Jawa Tengah.
Baca Juga: Sementara Setop Regrouping, Disdik Kota Solo Fokus Benahi Sekolah Rusak Dan SDM
Tingginya angka kematian jemaah haji di dua provinsi itu, salah satunya dipengaruhi oleh besarnya kuota jemaah.
Untuk mencegah kejadian serupa, Kementerian Haji dan Umrah akan memperketat pemeriksaan kesehatan calon jemaah haji sebelum keberangkatan.
Calon jemaah haji dengan penyakit berisiko tinggi dipastikan tidak diberangkatkan.
Untuk calon jemaah haji dengan kasus demensia, komorbid darah tinggi, pneumonia, gagal ginjal dan beberapa kasus lain, dipastikan tidak ada yang bisa berangkat.
Dahnil mengakui kebijakan itu cukup berat, namun harus dilakukan demi keselamatan.
Baca Juga: Apa yang Baru dari Honda Vario EVO 160? Cek Detail Spesifikasi Lengkap dan Harganya
“Memang kami harus lebih tega, lebih ketat. Jadi mereka tidak layak untuk berangkat, tidak boleh berangkat,” bebernya.
Selain memperketat syarat, pemerintah juga akan menggandeng MUI, Muhammadiyah, NU, dan ormas Islam lain untuk edukasi kesiapan fisik.
Dahnil menekankan pentingnya konsep “manasik kesehatan”, karena 95 persen rangkaian ibadah haji adalah kegiatan yang banyak menguras fisik.
“Haji itu harus sehat, harus selamat. Makanya kita ada konsep manasik kesehatan. Jadi tim kesehatan kita sejak awal mendampingi jemaah supaya mereka memanasikan kesehatannya. Bukan hanya manasik ibadah,” tuturnya.
Dia mencontohkan, calon jemaah haji harus membiasakan jalan kaki dan olahraga rutin sejak jauh jauh hari.
Sebab apabila fisiknya tidak siap, nanti akan berdampak buruk terhadap keselamatan mereka di Tanah Suci. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono