RADARSOLO.COM-Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali mencatat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) pada semester I tahun 2026.
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kasus DBD, DD, serta DDS mengalami penurunan signifikan.
Kepala Dinkes Boyolali F.X Kristandiyoko merinci data kasus selama Januari hingga Juni 2026, yakni:
- 287 kasus Demam Dengue (DD)
- 40 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)
- 2 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS) dengan pasien meninggal dunia 1 orang.
"Pasien meninggal dunia tercatat 1 orang pada 11 Maret 2026 di RS Simo," ujar Kristandiyoko, Jumat (3/7/2026).
Dibandingkan semester I 2025 periode bulan Januari hingga Juni, jumlah kasus mengalami penurunan signifikan.
Pada periode yang sama tahun lalu, Dinkes mencatat:
- 1.023 kasus DD
- 300 kasus DBD/DSS dengan jumlah korban meninggal 4 orang
Untuk menekan penyebaran DBD, Dinkes Boyolali terus mengoptimalkan upaya pencegahan melalui edukasi masyarakat.
"Kami mengedukasi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan 3M Plus," jelas kadinkes.
3 M yang dimaksud adalah dengan Menguras, Menutup, Mendaur Ulang, ditambah Plus yaitu abatisasi, penggunaan lotion anti nyamuk, pemasangan kawat kasa.
Baca Juga: Toko Kelontong di Teras Boyolali Terbakar, Kerugian Rp 200 Juta
Selain itu, bisa dilakukan juga memelihara ikan pemakan jentik, menanam tanaman pengusir nyamuk, menghindari menggantung pakaian, dan pemakaian kelambu.
Selain itu, pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) diperkuat dengan sejumlah inovasi.
Diantaranya melalui Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dan Gerakan Siswa Sekolah Giat Berantas Jentik atau "Sikat Berintik".
Kristandiyoko mengimbau masyarakat agar tidak lengah meski kasus menurun.
Kewaspadaan dan peran aktif warga dalam PSN dinilai menjadi kunci mencegah lonjakan kasus DBD di paruh kedua tahun 2026. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono