RADARSOLO.COM - Setiap bulan Muharram atau bulan Sura, masyarakat Dukuh Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari selalu menggelar agenda tahunan pelestarian budaya.
Tradisi Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi kembali dilaksanakan, Jumat (10/7).
Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi digelar tepat pada Jumat ketiga bulan Suro.
Selain makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi, di Kompleks Makam Pantaran juga terdapat makam tokoh-tokoh Islam lain seperti Dewi Nawangwulan, Ki Ageng Pantaran, Ki Ageng Mataram, dan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
Baca Juga: Proyek Jalan Pandanaran Boyolali Rp7,5 Miliar Resmi Ditunda, Anggaran Dialihkan ke Ruas Prioritas
Sejak pagi, ribuan masyarakat memadati area Makam Pantaran untuk mengikuti prosesi adat tersebut, mereka menunggu arak-arakan kirab untuk berebut gunungan.
Acara diawali dengan Kirab Luwur. Kain penutup makam diarak bersama sesaji, songsong atau payung, berbagai jenis bunga.
Di belakangnya, warga mengarak 6 gunungan hasil bumi menuju kawasan Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi.
Bentuk gunungan yang dibuat lancip ke atas melambangkan doa dan permohonan yang ditujukan kepada Allah SWT.
Sementara itu, penggunaan hasil bumi (palawija) di dalamnya memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur dan persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen yang melimpah.
Nantinya, setelah seluruh prosesi doa bersama selesai dilaksanakan, gunungan-gunungan ini akan dirayah (diperebutkan secara massal) oleh para peziarah yang hadir.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, mengambil bagian dari gunungan tersebut diyakini dapat mendatangkan berkah tersendiri.
Tokoh masyarakat setempat, Harnowo mengatakan, Buka Luwur memang sudah menjadi agenda rutin tahunan Kabupaten Boyolali.
"Intinya, kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat terakhir di bulan Suro. Jadi setiap tahun sudah menjadi agenda rutin Kabupaten dan acaranya selalu diadakan," kata Harnowo.
Baca Juga: Dua Proyek Besar di Boyolali Mulai Dilelang, Pasar Karanggede dan Puskesmas Juwangi Jadi Prioritas
Namun tahun ini terasa istimewa karena ada tambahan acara baru bernama Sedekah Tuk atau Sedekah Mata Air yang sebelumnya belum pernah dilakukan.
Rangkaian dimulai sejak sore, sehari sebelumnya dengan prosesi Sedekah Tuk. Tujuannya untuk memetri atau merawat mata air yang diambil dari Umbul Sipendok, Simuncar, dan Tempuran.
"Pesertanya berasal dari seluruh masyarakat pengguna air. Jadi para pengguna air dari Sipendok dan Simuncar, mulai dari wilayah Selo, Ngagrong, hingga Candisari, semuanya diikutsertakan," jelasnya.
Bentuk Sedekah Tuk berupa kenduri bersama. Warga membawa sesaji berupa ingkung dan tumpeng yang kemudian diarak menuju wilayah Tempuran sebagai lokasi utama kenduri.
"Sejak tahun ini dan seterusnya, kami mulai merintis agar setiap tahunnya selalu ada kegiatan Sedekah Tuk ini. Tujuan utamanya untuk memetri mata air. Semoga para pengguna air senantiasa diberikan kesehatan dan keselamatan," ujar Harnowo.
Dia menambahkan, kegiatan ini juga untuk memberikan edukasi agar pengguna air selalu menjaga kelestarian mata air, sehingga aliran airnya tetap terjaga untuk anak cucu kelak.
Sementara itu Bupati Boyolali, Agus Irawan, turut hadir dalam prosesi tersebut. Dia menyebut tradisi Sadranan di Gladagsari memiliki tujuan utama untuk nguri-uri atau melestarikan budaya.
"Tradisi ini nantinya harus kita wariskan pula kepada generasi penerus kita," kata Bupati.
Menurutnya, esensi dari acara ini adalah bentuk rasa terima kasih dan syukur atas perjuangan para leluhur yang telah mewariskan ilmu keagamaan dan kebudayaan, sehingga Boyolali bisa tertata dengan baik hingga saat ini.(fid)
Editor : Nur Pramudito