RADARSOLO.COM – Krisis minimnya pendaftar siswa baru di jenjang Sekolah Dasar (SD) Negeri kian nyata di Kabupaten Boyolali. Sejumlah sekolah kini terseok-seok untuk memenuhi kuota rombongan belajar (rombel).
Salah satu kondisi paling memprihatinkan terjadi di SD Negeri Cepokosawit 2, Kecamatan Sawit, yang hanya berhasil menjaring 1 siswa baru untuk Tahun Ajaran 2026/2027.
Satu-satunya murid yang mendaftar di kelas 1 tersebut adalah seorang siswi bernama Khansa.
Kondisi ini membawa beban psikologis bagi tenaga pendidik.
Baca Juga: SD dan SMP di Sawit Boyolali Susah Dapat Murid Baru, Masalah Klasik yang Belum Teratasi
Guru kelas 1 SDN Cepokosawit 2, Andriyani Mudrikah, mengaku sempat merasa minder dengan keadaan ruang kelas yang hanya diisi satu siswa.
Meski demikian, dia menegaskan komitmennya untuk tetap memberikan pelayanan pendidikan terbaik.
"Ya, awalnya memang ada rasa minder. Tapi kembali lagi, seberapa pun jumlah muridnya, kita harus tetap semangat. Kami harus melayani siswa tersebut dengan sebaik-baiknya, karena orang tua sudah memercayakan anaknya untuk dididik di sekolah ini. Jadi, kami harus tetap optimal dalam mengajar," ujar Andriyani, Senin (13/7).
Pihak sekolah sebenarnya tidak tinggal diam. Andriyani membeberkan bahwa para guru telah berupaya maksimal dengan menerapkan sistem "jemput bola", mulai dari melakukan sosialisasi ke berbagai Taman Kanak-kanak (TK) hingga mendatangi desa-desa sekitar.
Bahkan, demi memastikan Khansa tetap bersekolah di sana, guru sampai mengunjungi rumahnya sebanyak 3 hingga 4 kali.
Namun, upaya keras tersebut terbentur oleh realitas di lapangan: jumlah anak usia SD di wilayah tersebut memang sangat langka.
"Kami sudah mendatangi TK-TK untuk melakukan sosialisasi, dan di TK pun tahun ini hanya meluluskan sekitar 4 atau 5 siswa saja," imbuhnya.
Dengan masuknya Khansa di kelas 1, total keseluruhan murid dari kelas 1 hingga kelas 6 di SDN Cepokosawit 2 kini hanya berjumlah 25 siswa. Dengan rincian persebaran siswanya, Kelas 1 sebanyak 1 siswa, Kelas 2 sebanyak 6 siswa, Kelas 3 sebanyak 4 siswa, Kelas 4 sebanyak 2 siswa, Kelas 5 sebanyak 4 siswa, serta Kelas 6 sebanyak 8 siswa.
"Tahun ini adalah yang paling sedikit. Tahun lalu kami masih bisa mendapatkan 6 siswa baru. Namun untuk tahun ini, jumlah anak usia SD memang benar-benar jarang," keluh Yani.
Fenomena penurunan drastis jumlah pendaftar ini rupanya bukan masalah tunggal di SDN Cepokosawit 2.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, membenarkan adanya tren sekolah dengan jumlah murid yang "unik" alias sangat sedikit di wilayahnya.
"Kalau se-Kabupaten Boyolali, untuk Sekolah Dasar yang mendapatkan siswa sangat sedikit memang ada beberapa, termasuk di Sawit. Di SD Negeri Cepokosawit itu tadi memang hanya dapat 1 murid," jelas Kuncoro.
Menurutnya, ada dua faktor utama penyebab fenomena ini, yakni jumlah sekolah yang tersedia terlalu banyak, sedangkan angka kelulusan anak dari jenjang TK ke SD tergolong kecil. Serta faktor Demografi.
Khusus di Kecamatan Sawit, angka kelulusan siswa baik dari TK ke SD maupun SD ke SMP memang merupakan yang terendah jika dibandingkan dengan kecamatan lain di Boyolali.
Krisis ini bahkan tidak hanya di jenjang SD, melainkan sudah mulai merembet ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kuncoro memaparkan bahwa dari total 52 SMP di Boyolali, tercatat hanya 20 sekolah yang kuotanya terpenuhi, sementara 32 sekolah lainnya masih memiliki kursi kosong.
"Untuk tingkat SD, jumlah yang tidak terpenuhi kuotanya jauh lebih banyak lagi. Bahkan, sekolah-sekolah yang dicap sebagai 'SD Favorit' dengan daya tampung 28 siswa per rombel pun, sangat sedikit yang jumlah muridnya benar-benar penuh," tuturnya.(fid)
Editor : Nur Pramudito