RADARSOLO.COM-Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau seluruh calon pendaki untuk meningkatkan kesiapsiagaan penuh dalam menghadapi fenomena mbediding.
Langkah antisipasi ini dikeluarkan setelah pantauan riil petugas di jalur pendakian menunjukkan suhu di kawasan TN Gunung Merbabu tercatat anjlok hingga mencapai -1°C pada waktu dini hari.
Baca Juga: Nama Gus Miftah Muncul di Sidang Korupsi DJKA, Disebut Kecipratan Duit Proyek Rp100 Juta
Kondisi dingin ekstrem yang disertai kemunculan embun upas (embun beku) ini dinilai berpotensi tinggi memicu serangan hipotermia akut bagi para pendaki yang tidak melakukan persiapan matang.
Kepala BTNGMb Anggit Haryoso mengungkapkan bahwa data berkala dari petugas di lapangan menggunakan Termometer dan Higrometer di Pos Sabana 1 pada 9–10 Juli 2026 menunjukkan rata-rata suhu udara berada di angka 2.67 derajat celcius, dengan tingkat kelembaban udara 48 persen.
"Mbediding adalah istilah Jawa untuk menggambarkan kondisi suhu yang mendadak jauh lebih dingin dari biasanya saat musim kemarau," jelas Anggit, Senin (13/7/2026) petang.
Suhu paling rendah terdeteksi pada pukul 05.30 WIB yang menembus minus 1 derajat celcius.
Selain penurunan suhu udara secara drastis, fenomena embun beku juga dilaporkan telah terlihat secara visual di area Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting.
Anggit melanjutkan, pihak BMKG menyebut fenomena iklim ini normal terjadi hingga September 2026 yang dipicu oleh 3 faktor utama.
Tiga aspek tersebut meliputi penguatan angin Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering, minimnya tutupan awan di langit, serta pelepasan panas permukaan bumi secara maksimal.
Dengan ketinggian puncak mencapai 3.145 Meter di atas permukaan laut (mdpl), dampak penurunan suhu di Merbabu menjadi jauh lebih ekstrem.
BTNGMb mengingatkan bahwa paparan suhu rendah, embusan angin kencang, serta kondisi pakaian yang basah dapat mempercepat terjadinya hipotermia.
Beberapa gejala klinis yang wajib diwaspadai di antaranya menggigil hebat, perubahan warna bibir atau kuku menjadi membiru, kesulitan berpikir jernih, berbicara terbata-bata, hingga lemas dan mengantuk berat.
“Jika gejala muncul, segera berteduh dari angin, ganti pakaian basah dengan kering, hangatkan tubuh, konsumsi minuman hangat, dan laporkan ke petugas,” tambahnya.
Baca Juga: Kisah Shava Warangga, Sprinter Asal Kota Solo yang Menembus Kejuaraan Dunia Atletik U-20
Guna mengantisipasi kondisi darurat, BTNGMb telah mengoperasikan fasilitas Shelter Emergency di Pos 3 Jalur Suwanting.
Pos penanganan awal sebelum proses evakuasi ini sudah dilengkapi dengan pasokan listrik tenaga surya, sistem penerangan, kamera CCTV, jaringan Wi-Fi, serta perangkat penangkal petir.
Menurut Anggit, musim kemarau memang menyuguhkan panorama Gunung Merbabu yang indah dengan pemandangan langit bersih.
Namun, risiko suhu ekstrem di bawah 1 derajat celcius tidak boleh diabaikan.
“Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat," ujar Anggota.
"Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com