Krisis Air Sawah di Andong Boyolali, Petani Berharap Pemkab Boyolali Fasilitasi Jaringan Listrik PLN untuk Bikin Sumur Dalam

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:01 WIB
Petani di Andong Boyolali mengandalkan mesin disel untuk mengairi sawah. (ISTIMEWA)
Petani di Andong Boyolali mengandalkan mesin disel untuk mengairi sawah. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM - Musim kemarau sekitar 3 bulan terakhir memaksa para petani di wilayah utara Kabupaten Boyolali bekerja ekstra 

Mencari sumber air alternatif secara mandiri agar tanaman padi tidak mati kekeringan.

Supriyanto, petani di Kecamatan Andong mengungkapkan, petani setempat bergotong-royong membangun sumur bor dalam khusus untuk keperluan irigasi sawah.

Baca Juga: Lestarikan Warisan Leluhur, 27 Kontingen Meriahkan Festival Gejog Lesung Tingkat Kabupaten di Cawas Klaten

"Kami berupaya agar tanaman padi tidak mati," ujar Supriyanto pada Minggu (19/7/2026).

Sebelum membuat sumur bor, petani membeli air dari sesama petani yang lahannya sudah memiliki fasilitas sumur bor.

Itu karena saluran air dari waduk terdekat, seperti Waduk Bade, sama sekali tidak menjangkau area persawahan mereka.

Saluran irigasi yang ada hanya dapat mengalir saat hujan.

"Kami sangat bergantung dengan keberadaan sumur bor untuk menyambung hidup dan mempertahankan lahan," lanjut Supriyanto.

Namun, kapasitas pengairan dari sumur yang ada saat ini masih sangat terbatas.

Baca Juga: Kolaborasi Internasional Tingkatkan Kesadaran Ibu Hamil terhadap Tanda Bahaya Kehamilan di Pucangsawit

Jika menggunakan pompa listrik submersible, satu titik sumur mampu mengairi lahan hingga seluas 2 hektare.

Hanya saja, mayoritas petani masih mengandalkan mesin disel berbahan bakar solar yang kapasitasnya hanya cukup untuk mengairi lahan seluas seperempat hektare.

Untuk menyiasati tingginya biaya operasional, para petani berencana memodifikasi mesin disel agar dapat menggunakan bahan bakar gas (elpiji) yang dinilai lebih hemat.

Belum adanya jaringan listrik resmi dari PLN di area persawahan membuat para petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyambung kabel dari permukiman sejauh 500 meter.

Baca Juga: Tradisi Cethik Geni ke-8 Digelar, Bupati Hamenang Puji Eksistensi Kuliner Lompya Duleg Khas Gatak Klaten di Tengah Gempuran Makanan Kekinian

"Jika jaringan listrik sudah tersedia, petani bisa langsung ganti menggunakan pompa air listrik submersible yang jauh lebih cepat dan murah," harapnya.

Sementara itu, Bupati Boyolali, Agus Irawan menegaskan, Pemkab Boyolali bergerak cepat dalam mengantisipasi kekeringan yang melanda lahan pertanian warga.

Koordinasi intensif dilakukan bersama Dinas Pertanian untuk mempercepat pembangunan sumur bor dalam di wilayah-wilayah terdampak.

Hingga bulan ini, tercatat sudah sekitar 25 titik sumur dalam yang terealisasi untuk mendukung sektor pertanian.

“Kami menargetkan penambahan hingga hampir 70 titik sumur baru pada akhir tahun ini. Bantuan akan disebar secara merata demi menyelamatkan mata pencaharian warga selama musim kemarau," jelas Agus Irawan.

Agus melanjutkan, peta dampak kekeringan di Boyolali berbeda-beda.

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Sendal, SPBU Kemiri Kebakkramat Ditutup Sementara

Kawasan lereng Gunung Merapi dan Merbabu cenderung lebih aman dari ancaman krisis air karena didominasi oleh tanaman sayuran yang tidak membutuhkan banyak air.

Sebaliknya, kekeringan pada lahan padi mayoritas terjadi di kecamatan yang letaknya jauh dari sumber air permukaan atau waduk besar. Seperti Waduk Cengklik, Waduk Kedung Ombo, dan Waduk Bade.

"Wilayah setempat menjadi prioritas utama kami dalam pembangunan sumur dalam," tegas bupati. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
andong boyolali kekeringan petani listrik sumur bor