Rapor Merah Stunting di Boyolali: Tinggi Badan 6.800 Anak Terdeteksi Pendek dan Sangat Pendek

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:26 WIB
Rembug Stunting digelar Pemkab Boyolali sebagai upaya menekan masalah kesehatan pada anak. (ISTIMEWA)
Rembug Stunting digelar Pemkab Boyolali sebagai upaya menekan masalah kesehatan pada anak. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM - Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menggelar  Rembug Stunting dalam rangka Koordinasi Jejaring Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Gizi, dan Kesehatan Reproduksi Tahun 2026, belum lama ini.

Langkah ini diambil sebagai upaya strategis untuk menyelaraskan data dan mempercepat penurunan angka stunting di wilayah tersebut.

Kepala DinkesBoyolali FX. Kristandiyoko mengungkapkan, saat ini terdapat perbedaan (gap) yang cukup signifikan pada data prevalensi stunting di Boyolali.

Berdasarkan pencatatan internal Dinkes, angka stunting berada di data 12,13 persen dengan cakupan kunjungan ibu hamil mencapai 48,5 persen.

Baca Juga: Ganggu Ketenangan Pasien, Balap Liar di Depan RS Panti Waluyo Solo Diobrak-abrik Polisi

Namun, jika merujuk pada data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka stunting di Boyolali justru masih bertengger di angka 24,5 persen.

Menurut Kristandiyoko, perbedaan ini dipicu oleh metode pengumpulan data yang tidak sama.

Karena itu, dia menekankan pentingnya perbaikan kualitas data yang mencakup aspek cakupan dan akurasi di tingkat bawah.

"Diperlukan ketepatan waktu dalam menginput laporan, termasuk toleransi waktu verifikasi dan validasi (verval) oleh petugas puskesmas," jelasnya. 

"Selain itu, pengisian data harus seragam dan hanya dilakukan oleh bidan desa. Evaluasi lain yang tidak kalah penting adalah belum optimalnya analisis pencegahan sebelum stunting itu terjadi," imbuh Kristandiyoko.

Baca Juga: Krisis Air Sawah di Andong Boyolali, Petani Berharap Pemkab Boyolali Fasilitasi Jaringan Listrik PLN untuk Bikin Sumur Dalam

Dinkes tidak bisa berjalan sendiri dalam mengentaskan masalah ini.

Kadinkes berharap lewat kegiatan rembug ini bisa membangun komitmen yang kuat dari setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Sementara itu, Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, Dwi Fajar Nirwana, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Boyolali menyoroti posisi Boyolali yang masih menduduki peringkat ketiga dengan kasus stunting tertinggi di wilayah Jawa Tengah.

Tak hanya stunting, Fajar juga menyoroti tingginya angka kematian ibu dan bayi.

Per Juni 2026, tercatat ada 6 kasus kematian ibu dan 66 kasus kematian bayi di Kabupaten Boyolali.

Secara rinci, selain kematian ibu dan bayi, balita berkategori stunting pendek dan sangat pendek di Boyolali berjumlah 6.814 anak.

Baca Juga: Lestarikan Warisan Leluhur, 27 Kontingen Meriahkan Festival Gejog Lesung Tingkat Kabupaten di Cawas Klaten

Kemudian balita wasting, gizi buruk, dan kurang gizi terdata ada 2.313 anak.

Sementara untuk kategori gabungan balita stunting wasting pendek dan sangat pendek, gizi buruk, serta gizi kurang berjumlah 560 bayi.

Menanggapi rapor merah tersebut, Wabup memaparkan lima langkah taktis yang akan segera diambil oleh Pemkab Boyolali.

Yakni melalui skema klasterisasi intervensi, peningkatan partisipasi posyandu, akurasi penggunaan alat antropometri, intervensi hulu (Audit Catin), serta optimalisasi dana CSR.

Fajar juga meminta seluruh OPD di lingkungan Pemkab Boyolali untuk aktif bergerak bersama.

"Penanganan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada dinas tertentu. Ini adalah kerja sinergi dan kolaborasi bersama. Mari kita buktikan bahwa dengan kerja cerdas bersama, kita mampu membawa Boyolali menjadi wilayah yang zero stunting," tegas Dwi Fajar Nirwana. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
gizi buruk rapor merah Stunting di Boyolali Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana