RADARSOLO.COM - Puluhan anak dan para orang tua berkumpul di area Hawwa Garden Stable, Boyolali, Minggu (19/7/2026).
Mereka larut dalam kegembiraan merayakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) dengan membaca buku bersama hingga menjajal aneka wahana permainan tradisional.
Meskipun HAN secara nasional diperingati setiap tanggal 23 Juli, perayaan di Boyolali ini sengaja digelar lebih awal sebagai bentuk kolaborasi nyata lintas komunitas.
Baca Juga: Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kasus Apa? Diciduk OTT KPK Usai Nobar Final Piala Dunia
Aksi kreatif ini diinisiasi oleh kolaborasi Hompimpa Solo, Boyolali Book Club, Read Aloud Boyolali, serta sejumlah taman baca lokal di Boyolali.
Ketua Panitia sekaligus pendiri Hompimpa Solo Dyah Bodrohini mengungkapkan, alasan utama memilih Boyolali sebagai pusat kegiatan.
Pihaknya memiliki komitmen kuat untuk menghidupkan dan meramaikan geliat literasi di daerah berslogan "Kota Susu" tersebut.
"Kegiatannya tentu bermain permainan tradisional untuk mengenalkan kembali budaya pada anak. Selain itu, kami melaksanakan gerakan literasi. Saat pertama kali datang, anak-anak juga diminta menggambar untuk mengekspresikan diri mereka," ujar Dyah.
Setelah menyalurkan kreativitas di atas kertas, anak-anak diajak mengikuti sesi ice breaking untuk mencairkan suasana.
Aktivitas edukatif tersebut kemudian dibagi berdasarkan kategori tingkatan usia:
-
Anak yang belum bisa membaca: Didampingi oleh komunitas Read Aloud Boyolali untuk mendengarkan dongeng berbahasa Jawa tentang tata cara membuat takir (wadah tradisional dari daun pisang) dan langsung mempraktikkannya.
-
Anak yang sudah bisa membaca: Diajak untuk membaca buku pilihan secara mandiri, kemudian menceritakan kembali isinya di depan teman-teman sejawat.
Baca Juga: Bappenas-Kemendagri Beri Lampu Hijau Atasi Persoalan Sampah di Kota Solo
"Jadi acara kami juga fokus membiasakan anak-anak untuk mengenal dan mencintai buku di momentum Hari Anak Nasional ini," tambah Dyah.
Keseruan acara berlanjut saat anak-anak dan para orang tua membaur dalam arena dolanan tradisional, mulai dari permainan dakon, lompat tali, egrang, hingga tarik tambang.
Menurut Dyah, HAN bukan hanya milik anak-anak, tetapi juga ruang bagi orang dewasa untuk melepas penat dari rutinitas harian.
"Bermain permainan tradisional bisa menjadi nostalgia bagi orang dewasa. Mereka bisa mengeluarkan kembali sisi anak-anak dari dalam diri mereka, seperti berani mencoba hal baru. Meskipun sudah menjadi ibu, dia kan tetap seorang anak dari ibunya," tuturnya.
Menariknya, agenda perayaan ini juga menyisipkan misi kepedulian lingkungan.
Baca Juga: Rasiman Ungkap Modal Besar Persis Solo Hadapi Piala Soeratin Jawa Tengah 2026
Di akhir acara, seluruh peserta disuguhi makanan tradisional yang disajikan menggunakan wadah daun pisang, lengkap dengan pembagian susu sapi segar langsung dari peternak lokal.
Dyah menekankan pentingnya konsep zero waste dan pengurangan sampah plastik dalam setiap kegiatan komunitas.
Tahun ini, gerakan lintas komunitas tersebut mengusung tema besar "Anak Boyolali Pinter Maca Ngerti Budaya".
Tema ini diambil sebagai respons atas minimnya perhatian terhadap dunia literasi saat ini.
"Saat ini banyak pihak kurang mendukung literasi, bahkan pemerintah pusat memotong anggaran di bidang literasi. Kami ingin komunitas hadir dari bawah untuk saling memperkuat sesama," tegas Dyah.
Kegiatan positif ini menuai respons hangat dari para orang tua. Gustia Saputri, salah satu wali anak, mengapresiasi inovasi perayaan HAN berbasis dolanan tradisional ini.
"Ini pertama kali ada peringatan HAN dengan permainan tradisional di Boyolali. Anak saya bisa bertemu, berinteraksi, dan bersosialisasi dengan teman-teman baru," kata Dyah. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com