RADARSOLO.COM - Dampak musim kemarau panjang membuat Pemkab Boyolali melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan.
Saat ini, wilayah terdampak krisis air bersih dilaporkan mulai meluas hingga mencakup beberapa kecamatan di Kabupaten Boyolali.
Secara keseluruhan, sejumlah desa yang tersebar di 5 kecamatan rawan kekeringan telah menerima pasokan air bersih.
Hingga Selasa (21/7/2026), total akumulasi volume air bersih yang telah disalurkan oleh petugas mencapai 181.000 liter.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menjelaskan, proses penyaluran armada bantuan air dilakukan secara bertahap menyasar desa-desa terdampak.
"Hari ini (Selasa 21 Juli) ada penyaluran di desa Guwo sebanyak 2 tangki dengan kapasitas 5 ribu liter air. Total 10 ribu liter untuk Desa Guwo," ujar Ari Wahyu Prabowo pada Selasa (21/7/2026).
Berdasarkan data terbaru dari BPBD Kabupaten Boyolali, daftar desa yang telah menerima distribusi air bersih meliputi:
-
Kecamatan Wonosegoro: Desa Guwo dan Desa Ketoyan.
-
Kecamatan Wonosamudro: Desa Bengle dan Desa Bercak.
-
Kecamatan Selo: Desa Samiran.
-
Kecamatan Tamansari: Desa Sangup.
-
Kecamatan Cepogo: Desa Kembangkuning.
Ari menambahkan, penyaluran pasokan air bersih ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan mendasar rumah tangga, fasilitas MCK, serta sektor peternakan warga yang sumber air alaminya mulai mengering total akibat kemarau.
BPBD Boyolali menegaskan bakal terus memantau perkembangan debit air di lapangan. Jika dampak kemarau teridentifikasi kian memburuk, kuota distribusi air bersih akan langsung ditambah sesuai dengan eskalasi laporan dari pemerintah desa setempat.
Baca Juga: Revitalisasi Keraton Dimulai, LDA Siap Buka Paksa Akses Bergembok
Warga juga diimbau untuk menghemat penggunaan air dan segera melapor jika membutuhkan bantuan darurat.
Penyusutan Debit Air di Embung Trosobo
Suhu terik akibat musim kemarau tahun ini juga berdampak langsung pada fasilitas penampungan air seperti embung dan waduk yang mengalami penurunan volume secara signifikan. Salah satunya terlihat jelas di Embung Trosobo, Desa Trosobo, Kecamatan Sambi.
Volume genangan air di embung tersebut telah menyusut cukup drastis lantaran terhentinya pasokan air hujan yang selama ini menjadi sumber pasokan utama. Padahal, Embung Trosobo biasanya diandalkan warga sebagai sarana pengairan untuk kawasan persawahan di sekitarnya.
Dengan menyusutnya cadangan air, para petani yang biasa memanfaatkan embung diimbau untuk bijak mengelola sisa air yang ada. Terlebih lagi, fenomena kemarau tahun ini diprediksi berlangsung lebih panjang karena berbarengan dengan fenomena El-Nino. (*)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com