RADARSOLO.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mengintensifkan penyaluran bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan.
Per tanggal 24 Juli 2026, BPBD mencatat telah mendistribusikan total 279 ribu liter air bersih ke berbagai wilayah terdampak.
Plt Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengungkapkan, proses distribusi air bersih telah menjangkau 5 kecamatan, 12 desa/kelurahan, dan 24 dukuh dengan pengerahan total 66 armada tangki air.
"Sampai tanggal 24 Juli 2026, kami sudah menyalurkan 279 ribu liter air bersih menggunakan 66 tangki untuk 5.217 jiwa di 5 kecamatan," kata Ari, Minggu (26/7/2026).
Merujuk data tebaru yang dirilis BPBD Boyolali, Kecamatan Wonosegoro mencatatkan jumlah warga terdampak terbanyak yakni mencapai 1.925 jiwa.
Disusul Kecamatan Wonosamodro dengan 1.687 jiwa, Kecamatan Tamansari 856 jiwa, Kecamatan Selo 846 jiwa, serta Kecamatan Cepogo 119 jiwa.
Sementara itu, untuk akumulasi volume penyaluran pasokan air bersih meliputi:
-
Kecamatan Wonosamodro: Menerima kuota terbanyak yakni 35 tangki atau setara 121 ribu liter.
-
Kecamatan Wonosegoro: Menerima 16 tangki atau setara 83 ribu liter.
-
Kecamatan Selo: Menerima 8 tangki atau setara 40 ribu liter.
-
Kecamatan Tamansari: Menerima 6 tangki atau setara 30 ribu liter.
-
Kecamatan Cepogo: Menerima 1 tangki atau setara 5 ribu liter.
Beberapa desa yang menjadi titik fokus prioritas penyaluran di antaranya:
- Desa Bengle di Kecamatan Wonosamodro menerima 25 tangki
- Desa Bojong di Kecamatan Wonosegoro 6 tangki
- Desa Sangup di Kecamatan Tamansari 6 tangki
Dari sisi pendanaan, Ari menjelaskan, operasional distribusi air bersih yang telah berjalan sejauh ini mayoritas bersumber dari APBD sebesar 59 persen.
Baca Juga: Usai Penantian Selama 20 Tahun, Pembangunan Jembatan Perintis Garuda Hubungkan Kranggan-Leses Klaten
Kemudian disokong oleh porsi CSR/lainnya sebesar 38 persen, BUMN/BUMD sebesar 2 persen, serta PMI sebesar 1 persen.
Untuk tahun ini, belum ada alokasi pendanaan yang bersumber dari APBN.
"Kami berupaya agar bantuan ini tepat sasaran dan berkelanjutan selama musim kemarau. Jika ada wilayah yang masih membutuhkan bisa segera melapor ke BPBD," pungkas Ari.
BPBD Boyolali mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan segera berkoordinasi dengan pihak terkait apabila cadangan sumber air di lingkungannya mulai menipis.
Pihak BPBD memperkirakan volume permintaan dropping air bersih masih akan terus bertambah.
Hal ini mengingat durasi musim kemarau tahun 2026 berpotensi berlangsung cukup panjang.
Estimasi puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada kurun bulan Agustus hingga September.
Realisasi dropping air bersih melampaui total akumulasi musim kemarau pada tahun 2025 lalu.
Pada musim kemarau tahun lalu, total permintaan bantuan air hanya berkisar belasan tangki lantaran dikategorikan sebagai fenomena kemarau basah, di mana intensitas curah hujan masih terbilang sering turun. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com