RADARSOLO.COM - Saat musim kemarau tiba, sejumlah warga memanfaatkan area pinggiran Waduk Cengklik yang mengering dan bebas genangan untuk dijadikan lahan pertanian musiman.
Efendi, salah satu petani yang memanfaatkan area surutan waduk mengungkapkan, bercocok tanam di kawasan Waduk Cengklik memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan sawah konvensional.
Di antaranya adalah kemudahan akses sumber air, di mana petani cukup membuat sumur dangkal atau langsung memompa air dari waduk.
Selain itu, karakteristik tanah bekas genangan cenderung sangat subur dan gembur sehingga lebih mudah diolah.
"Tanahnya gampang digarap, empuk, tidak keras seperti tanah sawah pada umumnya," jelas Efendi.
Meskipun tergolong mudah, tantangan utama para petani kawasan waduk adalah kejaran waktu sebelum musim hujan kembali tiba.
Apabila musim hujan datang, debit air akan naik dan menenggelamkan tanaman mereka.
Karena itu, para petani menganggap aktivitas bercocok tanam di pinggiran waduk ini sebagai pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu sekaligus menambah penghasilan.
"Sebenarnya lebih enak menggarap di sini karena mudah, tapi sayangnya tidak bisa dilakukan terus-menerus. Gangguan hama seperti tikus juga tetap ada. Kuncinya memang harus cepat-cepat tanam agar bisa panen sebelum air naik," terangnya.
Petani lainnya, Haryono, 67, mengaku sudah bertahun-tahun menggarap lahan pasang surut di pinggiran Waduk Cengklik setiap kali musim kemarau tiba.
Sebelum mulai menanam, para petani harus terlebih dahulu membersihkan gulma dan tanaman air yang menutupi petakan lahan.
"Kalau mau digarap, harus dibersihkan dulu,” jelas Haryono.
Tak tanggung-tanggung, Haryono menggarap lahan seluas lebih dari 1,5 hektare.
Dari luasan area tersebut, ia mengaku mampu memanen hingga berton-ton hasil bumi.
Jenis tanaman yang dipilih umumnya merupakan tanaman yang tahan cuaca dan cocok ditanam saat musim kemarau, seperti padi.
Haryono menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan ini sangat bergantung pada kondisi iklim.
Lahan baru bisa muncul dan siap ditanami ketika volume air waduk menyusut secara drastis.
"Kalau musim hujan, semuanya tenggelam. Kalau beruntung bisa dua kali panen dalam setahun, tapi bisa panen satu kali saja sudah alhamdulillah," imbuhnya.
Selain tanaman padi, para petani juga memanfaatkan area lahan kering di kawasan Waduk Cengklik untuk menanam komoditas pertanian lainnya, seperti kacang hingga cabai. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com