RADARSOLO.COM - Dampak musim kemarau mulai dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Boyolali.
Di Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, warga terpaksa menggunakan air Sungai Serang yang debitnya menyusut drastis untuk mencuci.
Usin, warga setempat, memanfaatkan air Sungai Serang untuk mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga.
Hal ini disebabkan oleh sumur-sumur galian milik warga mulai mengering sejak beberapa pekan terakhir.
"Saluran air bersih juga tidak pasti mengalir setiap hari. Jadi untuk cuci pakai air sungai. Kalau untuk masak dan minum juga ambil dari sungai, tapi diendapkan dulu biar layak," ujarnya.
Usin menyebutkan, dampak kemarau mulai terasa sejak sebulan lalu.
Menanggapi situasi ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Ari Wahyu Prabowo menyatakan, pihaknya telah memetakan 9 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih.
"Saat ini berdasarkan data BPBD, sudah ada 5 kecamatan yang terdampak. Yaitu Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Selo, dan Tamansari," ujar Ari.
Guna penanganan selama kemarau, BPBD Boyolali telah menyiagakan sekitar 1 juta liter pasokan air bersih.
Baca Juga: Mal-Mal di Solo Tetap Normal, Polresta Tegaskan Kondisi Kamtibmas Kondusif
Jumlah tersebut dipastikan dapat ditambah sesuai dengan dinamika kebutuhan warga di lapangan.
Volume bantuan air bersih diprediksi masih akan terus membengkak mengingat masa kemarau saat ini baru tahap awal dan belum memasuki masa puncaknya.
“Pemkab akan menyiapkan air bersih sesuai kebutuhan masyarakat," tegas Ari.
Tercatat per 30 Juli 2026, BPBD Boyolali bersama unsur terkait telah mendistribusikan sebanyak 107 tangki air atau setara dengan total 470 ribu liter bantuan air bersih ke 7 kecamatan terdampak.
Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamudro menjadi wilayah yang menerima pasokan bantuan air terbanyak.
Rinciannya:
- Kecamatan Wonosegoro : 148 ribu liter untuk 2.450 warga.
- Kecamatan Wonosamudro : 199 ribu liter untuk 1.825 warga. (fid)
Sumber : Radarsolo.jawapos.com