Dampak Kemarau di Wonosegoro Boyolali Kian Parah, Warga Desa Bolo Terpaksa Gunakan Air Sungai yang Diendapkan untuk Minum dan Memasak

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 18:16 WIB
Warga Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali menggunakan air Sungai Serang untuk mencuci dan memasak karena sumur-sumur mengering. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Warga Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Boyolali menggunakan air Sungai Serang untuk mencuci dan memasak karena sumur-sumur mengering. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Dampak musim kemarau mulai dirasakan sebagian masyarakat di Kabupaten Boyolali.

Di Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, warga terpaksa menggunakan air Sungai Serang yang debitnya menyusut drastis untuk mencuci.

Usin, warga setempat, memanfaatkan air Sungai Serang untuk mencuci pakaian serta peralatan rumah tangga.

Hal ini disebabkan oleh sumur-sumur galian milik warga mulai mengering sejak beberapa pekan terakhir.

Baca Juga: Metri Bumi Merapi 2026: Wujud Syukur Warga Lereng Merapi, Gelar Kirab Gunungan hingga Doa Lintas Agama di Kalitalang Klaten ​

"Saluran air bersih juga tidak pasti mengalir setiap hari. Jadi untuk cuci pakai air sungai. Kalau untuk masak dan minum juga ambil dari sungai, tapi diendapkan dulu biar layak," ujarnya.

Usin menyebutkan, dampak kemarau mulai terasa sejak sebulan lalu.

Menanggapi situasi ini, Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali Ari Wahyu Prabowo menyatakan, pihaknya telah memetakan 9 kecamatan yang berpotensi terdampak kekeringan dan krisis air bersih.

"Saat ini berdasarkan data BPBD, sudah ada 5 kecamatan yang terdampak. Yaitu Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Selo, dan Tamansari," ujar Ari.

Guna penanganan selama kemarau, BPBD Boyolali telah menyiagakan sekitar 1 juta liter pasokan air bersih.

Baca Juga: Mal-Mal di Solo Tetap Normal, Polresta Tegaskan Kondisi Kamtibmas Kondusif

Jumlah tersebut dipastikan dapat ditambah sesuai dengan dinamika kebutuhan warga di lapangan.

Volume bantuan air bersih diprediksi masih akan terus membengkak mengingat masa kemarau saat ini baru tahap awal dan belum memasuki masa puncaknya.

“Pemkab akan menyiapkan air bersih sesuai kebutuhan masyarakat," tegas Ari.

Tercatat per 30 Juli 2026, BPBD Boyolali bersama unsur terkait telah mendistribusikan sebanyak 107 tangki air atau setara dengan total 470 ribu liter bantuan air bersih ke 7 kecamatan terdampak.

Baca Juga: Dukung Wajib Belajar 13 Tahun, Pemkot Solo Tambah Dua TK Negeri Baru Manfaatkan Lahan Eks SD Regrouping

Kecamatan Wonosegoro dan Wonosamudro menjadi wilayah yang menerima pasokan bantuan air terbanyak.

Rinciannya:

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Desa Bolo air sungai BPBD Boyolali kekeringan wonosegoro