RADARSOLO.COM-Program pengadaan seragam sekolah gratis dari Pemkab Boyolali untuk murid siswa baru masih dalam tahap produksi.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali Dwi Hari Kuncoro mengungkapkan, untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), sebagian seragam sudah memasuki proses penjahitan.
Sementara untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), pengadaan masih berada pada tahap produksi bahan.
Sambil menunggu seluruh seragam selesai diproduksi dan disalurkan, Kuncoro mengimbau para murid untuk tetap menggunakan pakaian seragam dari jenjang pendidikan sebelumnya.
"Beberapa warna seperti merah, biru dan lainnya sudah terproduksi. Kami harap orang tua dan murid kelas 1 SD serta kelas 7 SMP bersabar dulu. Silakan pakai seragam lama terlebih dahulu sampai seragam bantuan sampai ke tangan masing-masing," ujarnya, Senin (4/8/2026).
Secara administratif, pengerjaan proyek ini ditargetkan tuntas dalam rentang waktu 60 hari setelah penandatanganan kontrak.
Kendati demikian, proses pembagian ke sekolah-sekolah akan dilaksanakan secara bertahap.
Untuk tingkat SD, seluruh bantuan diberikan dalam bentuk pakaian jadi.
Proses pengadaannya dimulai setelah pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) selesai, guna mengumpulkan data pasti jumlah murid serta ukuran seragam yang dibutuhkan.
"Insya Allah September sudah semuanya. Untuk Agustus ini sebagian sudah ada, tapi belum semua," jelasnya.
Setiap peserta didik baru akan menerima alokasi sebanyak 3 setel seragam.
Untuk jenjang SD, rinciannya pakaian jadi seragam OSIS merah-putih, Pramuka, dan Batik Ikon Kabupaten Boyolali.
Sedakan murid SMP, bantuan diserahkan dalam bentuk bahan kain sebanyak 3 setel.
Meskipun mendapatkan sambutan hangat dari mayoritas masyarakat, terdapat beberapa sekolah yang memilih menolak program seragam gratis.
Mengenai hal ini, Kuncoro menegaskan pihaknya tidak mempermasalahkannya lantaran penerimaan bantuan ini sejak awal disertai dengan lembar kesanggupan untuk mengenakan seragam tersebut.
"Kami sampaikan program ini disertai kesanggupan untuk dipakai. Kalau diberikan tapi tidak dipakai, ya apa gunanya. Kami berharap program ini benar-benar bermanfaat dan meringankan beban orang tua murid," pungkasnya.
Kuncoro merinci, pada tingkat SD terdapat 2 sekolah yang menolak program seragam gratis, serta 12 sekolah lainnya (dari total 558 SD Negeri maupun Swasta) yang hanya menerima sebagian alokasi.
Adapun untuk bantuan Lembar Kerja Siswa (LKS), seluruh SD tercatat menerima penuh.
Sementara untuk jenjang SMP, dari total 101 sekolah SMP baik Negeri maupun Swasta, tercatat ada 1 sekolah yang menolak dan 3 sekolah yang memilih menerima bantuan. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com