Kemarau Panjang Terjang Boyolali, Petani Tinggalkan Padi dan Beralih ke Tanam Jagung serta Tembakau

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 12:39 WIB
Petani di Desa Salakan, Kecamatan Teras, Boyolali beralih menanam tembakau untuk menyiasati kemarau. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Petani di Desa Salakan, Kecamatan Teras, Boyolali beralih menanam tembakau untuk menyiasati kemarau. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Musim kemarau yang diprediksi berlangsung lebih panjang pada tahun ini memaksa para petani di Kabupaten Boyolali untuk mengubah strategi bercocok tanam.

Sejumlah petani memilih untuk meninggalkan tanaman padi dan beralih membudidayakan jagung serta tembakau yang dinilai jauh lebih tahan terhadap kondisi lahan dengan pasokan air minim.

Perubahan strategi ini salah satunya terlihat di Desa Salakan, Kecamatan Teras, Boyolali.

Hamparan sawah di wilayah tersebut mulai mengering seiring berkurangnya curah hujan sejak bulan Mei.

Baca Juga: Masih Tutup, Terdengar Suara Ledakan Disusu Kobaran Api di Dapur Resto Mie Bangka 25 Penumping Solo

Tidak hanya area persawahan, sejumlah aliran sungai dan saluran irigasi juga mengalami kekeringan sehingga distribusi air untuk sektor pertanian harus digilir.

Salah seorang petani setempat, Hardiyo mengungkapkan bahwa keterbatasan pasokan air membuat para petani tidak memiliki banyak opsi selain mengganti komoditas padi dengan jagung.

Pasalnya, distribusi air dari sumber mata air hanya mengalir sekitar sebulan sekali sehingga tidak sanggup memenuhi kebutuhan irigasi padi.

"Kami kekurangan air karena distribusi air bergiliran. Saat musim kemarau, satu bulan sekali baru mendapat air. Karena itu kami beralih menanam jagung,” terang Hardiyo, Selasa (4/8/2026).

Hardiyo menyebutkan, hasil panen jagung terbilang hampir setara dengan padi namun membutuhkan konsumsi air yang jauh lebih sedikit.

Baca Juga: Kapan War Tiket Upacara HUT RI ke-81 17 Agustus 2026 di Istana Presiden Dibuka? Akses Link pandang.istanapresiden.go.id

Saat ini, harga jagung berada di kisaran Rp6.200 per kilogram, meskipun angka tersebut dirasa belum sepenuhnya sesuai harapan mengingat harga pupuk yang mahal.

Pergantian komoditas ini sudah menjadi langkah rutin tahunan petani saat kemarau demi menekan risiko gagal panen. Hasil dari panen jagung dinilai jauh lebih baik ketimbang memaksakan menanam padi yang berisiko puso akibat kekeringan.

Kondisi berbeda dirasakan oleh para petani di Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono.

Bagi Suranto, seorang petani di Desa Dukuh, musim kemarau panjang justru menjadi momentum yang menguntungkan karena dapat membudidayakan tanaman tembakau.

Baca Juga: 10 Singkatan yang Lahir dari Budaya Internet, Berapa yang Masih Sering Kamu Pakai?

Menurut Suranto, tembakau menawarkan hasil panen dengan nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibanding padi dalam durasi masa tanam yang relatif sama, yaitu sekitar tiga bulan.

"Kalau padi sekali panen sekitar Rp7 juta, tembakau bisa dua kali lipatnya. Semakin panjang musim kemarau, kualitas tembakau justru semakin bagus karena hama berkurang. Saat ini tembakau basah bisa dihargai sekitar Rp5 ribu per pohon," ujar Suranto.

Ia menjelaskan, tanaman tembakau tidak memerlukan suplai air melimpah selama musim kemarau.

Terik matahari yang intens juga efektif menekan populasi hama sehingga mendongkrak kualitas daun tembakau.

Diverifikasi strategi para petani di Teras maupun Banyudono memperlihatkan daya adaptasi sektor pertanian Boyolali dalam menghadapi tantangan iklim.

Kendati demikian, para petani sangat berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah—terutama dalam menjaga stabilitas harga jual hasil panen, menjamin ketersediaan pupuk, serta menekan harga pupuk agar lebih terjangkau. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Boyolali kemarau panjang tanam jagung petani tembakau