BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Warga Boyolali Bisa Cicil Iuran Mulai Rp1.000 Lewat BUMDes

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 14:40 WIB
BPJC Cabang Boyolali Bersama Mitra Bumdes saat launching NADI JKN, Selasa (4/8/2026).
BPJC Cabang Boyolali Bersama Mitra Bumdes saat launching NADI JKN, Selasa (4/8/2026).

RADARSOLO.COM - BPJS Kesehatan meluncurkan program Menabung Demi Iuran JKN (NADI JKN), Selasa (4/8/2026). Boyolali sendiri dipilih untuk secara langsung mengikuti launching. 

Program ini ditujukan untuk memudahkan pekerja sektor informal membayar iuran JKN secara bertahap.

Deputi Direksi Wilayah VI Jateng-DIY BPJS Kesehatan, Rahmat Asri Ritonga, mengatakan program ini lahir karena banyak peserta merasa berat saat harus membayar iuran sekaligus dalam jumlah besar.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Warga Boyolali Bisa Cicil Iuran Mulai Rp1.000 Lewat BUMDes

"Selama ini kan banyak peserta kita yang pas mau bayar baru merasa, 'Waduh uangnya masih kurang nih,' karena tiba-tiba harus membayar dalam jumlah rupiah tertentu. Misalnya kelas 3 dan ada 4 orang, maka Rp140 ribu harus dia bayar," ujarnya.

BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Warga Boyolali Bisa Cicil Iuran Mulai Rp1.000 Lewat BUMDes
BPJS Kesehatan Luncurkan NADI JKN, Warga Boyolali Bisa Cicil Iuran Mulai Rp1.000 Lewat BUMDes

Padahal banyak warga yang bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan harian, mingguan, atau per musim panen. Untuk itu BPJS Kesehatan menggandeng BUMDes, Kantor Pos, dan Koperasi Merah Putih.

Boyolali dan Klaten sendiri menjadi pioneer-nya penerapan program NADI JKN. Yakni BUMDes Tumang Kecamatan Cepogo, dan Ponggok Kabupaten Klaten. 

“Nanti sistemnya mereka itu menabung. Kalau punya uang berapa, satu hari itu akan ditabung," jelasnya.

Nantinya jika sudah masuk masa pembayaran bulan depan, uang yang terkumpul akan disetorkan BUMDes ke BPJS Kesehatan. Kelebihan saldo akan digunakan untuk bulan berikutnya.

Dia menyebut peluncuran NADI JKN juga untuk menjawab gap keaktifan peserta. Cakupan JKN Jateng-DIY sudah 98 persen, khususnya di Kabupaten Klaten 83 persen dan Kabupaten Boyolali 80 persen.

Baca Juga: Jangkau Daerah 3T di Indonesia, BPJS Kesehatan Luncurkan Layanan Ujung Negeri Secara Serentak

"Untuk Boyolali cukup bagus, keaktifannya 80 persen. Klaten lebih tinggi lagi yaitu 83 persen. Jateng keaktifan kita di angka 80-an. Tapi kan masih ada gap itu. Nah inilah yang kita coba buat program-program yang memudahkan," ungkapnya.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Boyolali, Deddy Febrianto menjelaskan, sasaran utama NADI JKN adalah pekerja mandiri atau pekerja lepas yang tidak ditanggung pemerintah maupun perusahaan.

"Jadi memang pekerja-pekerja yang buruh lepas, yang berusaha sendiri, seperti itu ya. Itulah yang kami sasar supaya lebih memudahkan untuk mereka dapat melakukan pembayaran," ujarnya.

Sistem pembayaran NADI JKN sangat fleksibel. Peserta bisa menabung kapan saja sesuai kemampuan, tanpa ada batasan nominal.

Baca Juga: Dukung Program MBG, BPJS Kesehatan dan Puskesmas Boyolali 1 Skrining Siswa SMAN 1 Boyolali

"Harian bisa. Jadi kapan pun mau, ada uangnya monggo disetor untuk jadi tabungan. Mau Rp1.000, mau Rp3.000, mau Rp5.000 silakan. Itu kebebasan karena kita melakukan proses menabung sesuai kemampuan," jelas Deddy

Di Kabupaten Boyolali, BPJS Kesehatan menggandeng BUMDes Tumang, Desa Cepogo sebagai mitra strategis. Alasannya karena BUMDes dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi warga.

Mekanismenya, warga menitipkan uang tabungan ke BUMDes. Jika saldo sudah cukup untuk membayar iuran bulan depan, maka akan langsung dipotong dan disetor ke BPJS Kesehatan. Kelebihannya akan ditabung untuk bulan berikutnya.

Direktur BUMDes Tumang, Felani Ade Widakdo, menyambut baik program ini. Menurutnya, warga Desa Cepogo mayoritas adalah pengrajin ukir logam dengan penghasilan tidak tetap.

Felani menyebut sekitar 90 persen warga Desa Tumang sudah terdaftar BPJS Kesehatan. Dari jumlah itu, hampir 70 persen rutin membayar iuran melalui BUMDes setiap hari.

"Selama ini warga datang 'saya mau bayar BPJS'. Nah kalau sekarang bisa menabung dulu. Uangnya menitip dulu, nanti kalau sudah cukup, BUMDes yang menyetor," pungkasnya.

Baca Juga: BPJS Kesehatan Boyolali Dorong Kepatuhan Badan Usaha: Program JKN Berikan Perlindungan Pekerja hingga Ringankan Beban Perusahaan

Program NADI JKN sebelumnya sudah berjalan di Gojek dengan 3.000 peserta. Ke depan BPJS Kesehatan akan terus melakukan koordinasi dan tindak lanjut bersama mitra.

Sementara itu, Perangkat Desa Ponggok Klaten, Sugeng Raharjo, menilai program ini sangat membantu warga desa yang mayoritas petani.

"Orang desa itu banyak petani. Petani itu mungkin 4 bulan baru panen. InsyaAllah dengan 4 bulan panen bisa nabung di situ, sehingga kesehatan akan terus terjaga di desa kami," katanya.

Dia menegaskan sistem ini bisa mempermudah, dengan setoran ke BPJS tetap dilakukan per bulan oleh BUMDes.

"Mohon doanya dari semuanya, mudah-mudahan sistem ini berjalan dengan baik, sehingga kesehatan akan terus terjaga. Indonesia Emas tidak mungkin akan tercapai sebelum muncul desa-desa emas ini," tutur Sugeng. (fid)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
NADI JKN BPJC Cabang Boyolali Boyolali bpjs kesehatan bumdes