RADARSOLO.COM — Kebakaran lahan di Boyolali mengalami lonjakan signifikan seiring musim kemarau.
Sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026, tercatat sebanyak 36 kasus kebakaran lahan.
Merujuk data Damkar Satpol PP Boyolali mencatat eskalasi tajam pada Juli 2026 jika dibandingkan dengan capaian semester pertama.
Kabid Damkar Satpol PP Boyolali Supriyono merinci, sepanjang rentang Januari hingga Juni 2026, pihaknya hanya mencatat 6 kejadian kebakaran lahan.
Kendati demikian, dalam kurun waktu satu bulan penuh pada periode 1 Juli hingga 31 Juli 2026, jumlah insiden melonjak drastis menjadi 28 kejadian.
Sementara pada awal bulan ini, yakni sejak 1 Agustus hingga Rabu (5/8/2026), sudah terdata 2 kejadian kebakaran lahan baru.
"Kenaikannya cukup tajam di bulan Juli. Ini seiring dengan cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api di lahan kosong maupun semak belukar," ujar Supriyono, Rabu (5/8/2026).
Mayoritas kebakaran lahan disebabkan faktor kelalaian manusia.
Pemicunya bervariasi, mulai dari kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan, pembakaran sampah yang menjalar, hingga aktivitas pembakaran lahan untuk pembersihan secara gegabah.
Baca Juga: Ancaman Karhutla Mengintai, Kapolres Sragen Minta Jajaran Tak Tunggu Api Berkobar
"95 persen penyebabnya karena aktivitas manusia. Saat kemarau seperti ini, rumput kering sangat mudah terbakar hanya dengan percikan kecil," ungkapnya.
Menyikapi eskalasi kasus yang ada, pihak Damkar Boyolali meminta masyarakat untuk memperketat kewaspadaan di lingkungan masing-masing.
Supriyono mengimbau warga agar tidak membakar sampah di lahan kosong, menghentikan kebiasaan membuang puntung rokok di area semak-semak, serta tidak meninggalkan sumber api seperti kompor atau lilin tanpa pengawasan saat berpergian keluar rumah.
Baca Juga: Demi KDMP, Pedagang Pasar Papahan Karanganyar Diminta Pindah
Apabila menemukan adanya titik api kecil di sekitar lingkungan, masyarakat diminta bergotong royong untuk segera memadamkannya serta melaporkan kejadian tersebut ke pos Damkar terdekat.
Selain itu, ia menyarankan para pemilik lahan untuk membuat sekat bakar serta rutin membersihkan gulma kering di sekitar area lahan demi mencegah potensi perambatan api. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com