RADARSOLO.COM – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Boyolali bekerja sama dengan Boyolali Heritage Society melakukan pemetaan naskah kuno atau manuskrip kuno di Kabupaten Boyolali.
Kegiatan ini merupakan perjalanan ketiga. Sebelumnya tim telah melakukan pemetaan di Desa Tumang, Cepogo dan Desa Wonodoyo, Andong.
Kali ini pemetaan dilaksanakan di Pondok Pesantren Zumrotut Tholibin, Kecamatan Andong.
Staf Kebudayaan dari Disdikbud Boyolali Farid Burhanudin menjelaskan, fokus kegiatan hari ini adalah mengidentifikasi naskah.
Setelah itu, tim menggandeng filolog untuk melakukan kajian dan digitalisasi agar naskah dapat diakses masyarakat luas melalui platform digital.
"Jadi di sini kita lebih fokus pada mengidentifikasi naskah. Setelah itu kita mengajak filolog untuk mengidentifikasi, hingga melakukan digitalisasi terkait naskah-naskah itu agar bisa diakses oleh masyarakat luas secara bebas melalui platform digital," ujarnya di Pondok Zumrotut Tholibin, Jumat (7/8/2026).
Dia berharap digitalisasi ini dapat mengungkap sejarah panjang Kabupaten Boyolali.
Farid melanjutkan, salah satu tujuan pemetaan ini adalah menyampaikan bahwa Boyolali memiliki peradaban yang jauh lebih lama.
Ini dibuktikan dengan adanya manuskrip kuno dan cagar budaya kebendaan yang ada di Kabupaten Boyolali.
Terkait usia naskah, dia membenarkan bahwa beberapa naskah yang ditemukan lebih tua dari masa kemerdekaan 1945. Hal serupa juga ditemukan di Wonodoyo dan Tumang.
Untuk langkah selanjutnya, Dinas Kebudayaan akan melakukan pendataan naskah untuk dimasukkan ke dalam Data Pokok Kebudayaan (Dapobud). Sementara Dinas Arpusda akan melakukan pengarsipan dan pendaftaran ke Perpustakaan Nasional.
"Kegiatan ini tidak bisa hanya berjalan atas komunitas lokal dan dinas Pemda saja, tetapi kita juga merangkul dinas-dinas di tingkat pusat untuk perjalanan ini," jelasnya.
Hasil digitalisasi nantinya akan diresmikan melalui grand launching dan dapat diakses publik sebagai khazanah keilmuan.
Di Ponpes Zumrotut Tholibin, direncanakan 3 hingga 4 naskah yang akan didigitalisasi. Namun jumlah tersebut masih bisa bertambah.
"Kita hanya membantu untuk mendigitalisasi. Terkait naskah fisiknya, hak kepemilikan tetap kita berikan kepada pemiliknya. Kita juga akan memberikan edukasi bagaimana cara menyimpan naskah agar lebih benar, karena manuskrip itu sangat mudah rusak dan rapuh," tambah Farid.
Sementara itu, Filolog Ahmad Wahyu Sudrajad dari Institut Studi Al Qur`an dan Ilmu Keislaman Sunan Pandanaran mengatakn, bahwa temuan di Ponpes Zumrotut Tholibin memperkuat jejaring dengan Mamba’ul Ulum Solo.
Beberapa nama ulama yang terkait di antaranya Muhammad Bulkini dan K. H. Ahmad Zuhdiannoor.
"Alhamdulillah, temuan di sini memperkuat keterkaitannya dengan jejaring Mamba'ul Ulum Solo. Ada Mbah Bulkin dan juga di sini Mbah Zuhdi," katanya.
Adapun naskah yang ditemukan meliputi kitab fikih, usul fikih, kitab khotbah hari raya, dan naskah nahwu.
Rentang waktu penulisan naskah tersebut diperkirakan tahun 1930-an hingga 1950-1960-an.
Dari total sekitar 20 naskah lebih yang ditemukan, hanya 3 sampai 4 naskah yang merupakan tulisan tangan atau manuskrip kuno. Sisanya merupakan buku cetakan.
"Kalau manuskrip itu adalah yang ditulis tangan dengan rentang waktu minimal 50 tahun. Kalau yang cetakan, itu bisa dinamakan buku kuno karena hasil cetakan, bukan tulisan tangan," jelasnya.
Naskah tulisan tangan yang ditemukan antara lain kitab fikih, usul fikih, dan khotbah hari raya.
Untuk penulisnya belum diketahui secara pasti. Naskah di atas kertas Eropa kemungkinan ditulis oleh Mbah Zuhdi.
Temuan ini juga menguak hubungan sejarah Ponpes Zumrotut Tholibin dengan Mamba’ul Ulum.
Mamba’ul Ulum Solo yang awalnya milik Pakubuwono X kemudian dikembangkan oleh Kiai Ridwan di Gemolong.
"Gemolong dulu merupakan wilayah perdikan Solo, masuknya Kalioso milik Kiai Abdul Jalal Kalioso. Kiai Abdul Jalal Kalioso adalah gurunya Pakubuwono IV, dan di situ kemudian menjadi tanah perdikan Kasunanan Surakarta. Maka tidak heran jika salah satu keturunannya, Kiai Ridwan, bisa membawa Mamba'ul Ulum dari Solo ke Gemolong," tuturnya.(fid)
Editor : Nur PramuditoSumber : Radar Solo