Antisipasi Kekeringan 2026, Pemkab Boyolali Siapkan 1,25 Juta Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 18:22 WIB
BPBD Boyolali distribusikan air bersih kepada warga terdampak kekeringan. (DOK.BPBD BOYOLALI)
BPBD Boyolali distribusikan air bersih kepada warga terdampak kekeringan. (DOK.BPBD BOYOLALI)

RADARSOLO.COM - Pemkab Boyolali menyiagakan sekitar 1,25 juta liter air bersih untuk didistribusikan ke berbagai wilayah terdampak kekeringan selama musim kemarau 2026.

Alokasi volume air bersih tersebut dapat kembali ditambah apabila tingkat permintaan di masyarakat masih tinggi.

Hingga Kamis (6/8/2026), BPBD Boyolali bersama pemangku kepentingan (stakeholder) terkait telah menyalurkan sebanyak 646 ribu liter air bersih.

"Dari kita hitungannya liter. Estimasi kita sekitar 1.250.000 liter. Tapi tentunya ini nanti menyesuaikan kebutuhan lapangan," jelas Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali Ari Wahyu Prabowo.

Baca Juga: MotoGP Inggris 2026, Balapan Utama Mulai Main Jam Berapa? Cek Posisi Start Pembalap Siaran Langsung Malam Ini

 

Melalui kolaborasi ini, target distribusi air bersih hingga Minggu (9/8/2026) diproyeksikan dapat mencapai 700.000 liter.

Berdasarkan data sementara, penyaluran bantuan telah menjangkau 7 kecamatan, 20 desa, dan 44 dukuh.

Titik-titik prioritas meliputi Kecamatan Juwangi, Kemusu, Wonosegoro, Wonosamodro, Tamansari, Musuk, Selo, Cepogo, serta sebagian wilayah Andong.

"Jadi tidak menutup kemungkinan beberapa wilayah yang secara historis bukan menjadi risiko peta bencana kekeringan, tetapi dinamika di lapangan ketika membutuhkan, tentunya dari BPBD pasti akan melakukan dropping," terangnya.

Baca Juga: Asap Hitam Membumbung Tinggi, Kebakaran Lapak Rosok di Mojosongo Boyolali Sebabkan Kerugian Rp15 Juta

Masyarakat yang membutuhkan pasokan air bersih diimbau melapor melalui Pusdalops BPBD atau secara berjenjang via pemerintah desa dan kecamatan.

Dalam pelaksanaannya, BPBD berkolaborasi dengan PMI, Baznas, PDAM, TNI, Polri, komunitas, hingga relawan. Komunitas yang menggelar dropping mandiri juga diminta untuk melapor guna menjaga pemerataan bantuan.

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada jajaran TNI-Polri yang selalu berkolaborasi. Teman-teman komunitas dan masyarakat secara mandiri yang melakukan dropping juga memberikan laporan ke kita, sehingga terjadi pemerataan," ungkap Ari.

Di samping urusan krisis air, BPBD meminta warga agar bijak menggunakan air serta mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Baca Juga: Wawali Astrid Terpukau dengan Streetball Liga Angkasa di Kota Solo, Sukses Semarak HUT Kemerdekaan RI

Mengingat tingginya aktivitas pembakaran sampah dan pembersihan lahan.

"Yang tidak kalah penting, di masa kemarau panjang ini jaga lingkungan kita terkait ancaman kebakaran hutan dan lahan. Pembersihan tetap dilakukan, tetapi harus memperhatikan potensi kebakaran," imbaunya.

Sebagai langkah jangka menengah, Pemkab Boyolali akan memperbanyak jaringan sumber air, embung penampung, serta memperluas perpipaan PDAM.

Sementara untuk jangka panjang 15–20 tahun ke depan, pemerintah merancang rehabilitasi vegetasi melalui penanaman pohon penghasil cadangan air.

Ari menilai, vegetasi yang ada saat ini didominasi oleh tanaman yang kurang berpotensi menyimpan cadangan air tanah.

“Ini PR kita ke depan. Kita akan berkolaborasi dengan stakeholder dan pecinta lingkungan,” tutur Ari.

Merujuk prediksi BMKG, masa kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober atau November. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
BPBD Boyolali kekeringan dropping air bersih warga terdampak