RADARSOLO.COM-Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Boyolali mencatat realisasi investasi sebesar Rp1,45 triliun pada semester I-2026.
Capaian ini telah menembus 77,12 persen dari target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2026 yang ditetapkan sebesar Rp1,984 triliun.
Akumulasi investasi tersebut bersumber dari 5.864 proyek/bidang usaha yang terdaftar melalui sistem Online Single Submission (OSS) serta Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 18.194 orang.
Baca Juga: Damkar Boyolali Apresiasi Aksi Cepat Mahasiswa KKN Laporkan Kebakaran Kandang Sapi di Musuk
Kepala DPMPTSP Boyolali Dwi Sundarto merinci total realisasi investasi periode Januari–Juni 2026 secara akurat mencapai Rp1.457.789.141.807.
"Rinciannya, Triwulan I mencatatkan investasi Rp702,84 miliar dengan penyerapan 8.544 tenaga kerja dari 4.917 proyek. Sedangkan Triwulan II naik menjadi Rp754,94 miliar yang menyerap 9.650 tenaga kerja dari 947 proyek," jelas Dwi.
Melihat tren positif tersebut, Dwi optimistis realisasi investasi Boyolali hingga akhir tahun nanti mampu melampaui pencapaian tahun sebelumnya.
"Harapan kami pada 2026 ini bisa melebihi tahun sebelumnya, terlebih jika salah satu pabrik di Penggung mulai masuk tahap konstruksi. Saat ini pabrik tersebut sedang dalam proses perizinan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal)," tambahnya.
Sektor manufaktur tercatat masih menjadi motor utama penarik modal di Boyolali, disusul oleh sektor jasa, transportasi, serta sektor pendukung lainnya.
Para investor mayoritas membidik wilayah Kecamatan Boyolali Kota, khususnya kawasan Penggung yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Ampel serta wilayah Ampel itu sendiri.
Akses infrastruktur yang matang dan konektivitas transportasi yang baik menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Guna mendorong pemerataan ekonomi, Boyolali bersiap mengembangkan Kawasan Industri (KI) baru seluas minimal 50 hektare dalam satu hamparan utuh.
Saat ini, Boyolali masuk ke dalam daftar 12 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang ditunjuk Pemprov Jateng sebagai pusat sasaran pengembangan kawasan industri baru, bersama Rembang, Demak, Kota Semarang, Kendal, Batang, Brebes, Kabupaten Semarang, Grobogan, Kebumen, Banyumas, dan Cilacap.
"Arah Gubernur memang memplot 12 daerah ini untuk pengembangan kawasan industri. Untuk KI, ada syarat khusus sesuai RTRW dan minimal luasan lahan harus 50 hektare utuh," lanjut Dwi.
Pihak DPMPTSP Boyolali bakal menyusun kajian kelayakan (feasibility study) sepanjang tahun 2026 ini sebelum diajukan ke DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah pada 2027.
Kajian tersebut mencakup ketersediaan air baku, ketersediaan energi, hingga aksesibilitas ke jalan nasional.
"Konsepnya nanti adalah Kawasan Industri Hijau. Harapan kami kajian ini bisa mengarah ke Boyolali bagian utara agar mampu memantik pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut secara lebih agresif," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com