RADARSOLO.COM- Puluhan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Boyolali Bersatu menggelar aksi protes di kompleks Perkantoran Pemerintahan Terpadu Kabupaten Boyolali, Senin (10/8/2026).
Aksi ini dipicu oleh melonjaknya harga pakan ayam yang kian memberatkan operasional para peternak.
Dalam aksi tersebut, massa membawa 108 ekor ayam, 26 kilogram telur, serta sejumlah spanduk tuntutan.
Angka tersebut secara simbolis dipilih sebagai penanda tanggal pelaksanaan aksi, yakni 10 Agustus 2026.
Baca Juga: Operasional Tahir Museum Rp 900 Juta per Bulan, Wali Kota Solo: Harus Balance dan Tambah PAD
Titik aksi diawali di depan Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali untuk menyampaikan keluh kesah di hadapan sejumlah kepala OPD.
Serta menyerahkan ayam hidup kepada pimpinan dinas. Selanjutnya, massa bergeser menuju Monumen Jagung untuk melanjutkan orasi.
Peternak menyoroti harga jagung sebagai bahan baku utama pakan yang terus merangkak naik.
Sekaligus mendesak pemerintah menghentikan monopoli impor bahan baku pakan seperti bungkil kacang kedelai (BKK).
Salah seorang peternak, Kahono, membeberkan bahwa lonjakan harga pakan dirasakan selama 4 bulan terakhir dengan kenaikan sekitar Rp2.000 per kilogram (kg).
"Harga pakan sekarang hampir menyentuh Rp8.000 per kilogram. Padahal harga acuannya sekitar Rp5.500 per kilogram. Kenaikan Rp100 sampai Rp200 saja sebenarnya peternak sudah menjerit," ungkap Kahono, Senin (10/8/2026).
Kondisi tersebut kian pelik lantaran harga jual telur di tingkat peternak justru tertekan di kisaran Rp18.000 hingga Rp19.000 per kg, berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp24 ribu per kg.
Akibatnya, sebagian peternak terpaksa menggadaikan hingga menjual sertifikat tanah demi menutup biaya operasional.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Peternak Boyolali Bersatu, Krishandika Immanuel Raharjo, mengkhawatirkan harga jagung kembali melonjak ekstrem hingga Rp10 ribu per kg seperti yang pernah terjadi pada 2023.
Baca Juga: Damkar Boyolali Apresiasi Aksi Cepat Mahasiswa KKN Laporkan Kebakaran Kandang Sapi di Musuk
"Pemerintah menghendaki harga telur semurah mungkin, tetapi bahan bakunya sendiri mahal. Banyak peternak akhirnya diminta menjual telur dalam kondisi rugi," tegas Krishandika.
Ia menambahkan, peternak skala kecil yang memelihara kurang dari 2.000 ekor ayam kini terpaksa gulung tikar akibat ketidakseimbangan biaya produksi.
"Tuntutan utama kami adalah agar pemerintah memastikan ketersediaan pakan berkualitas dengan harga terjangkau. Pemerintah harus menjamin pasokan jagung nyata di lapangan sesuai HAP Rp5.500/kg, bukan hanya sekadar angka acuan di atas kertas," tambahnya.
Usai berorasi di Monumen Jagung, para peternak membagikan ratusan ekor ayam dan puluhan kilogram telur tersebut secara gratis kepada para pengguna jalan yang melintas.
Merespons aksi protes tersebut, Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali Ahmad Gojali memastikan bahwa seluruh aspirasi yang disampaikan peternak akan diteruskan ke tingkat atas.
"Aspirasi ini akan kami sampaikan kepada pimpinan, mulai dari Bupati, Gubernur, hingga kementerian terkait," terang Gojali.
Gojali menambahkan bahwa Pemkab Boyolali sebelumnya telah berupaya meringankan beban peternak melalui penyaluran bantuan benih jagung.
Serta menerbitkan Surat Edaran (SE) agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) membeli telur hasil peternak lokal sesuai HAP sebesar Rp24.000 per kilogram. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com