RADARSOLO.COM- Guna menekan harga serta menggenjot volume produksi susu sapi perah di Jawa Tengah, Pemprov Jateng menyiapkan pembukaan lahan peternakan baru di Kabupaten Brebes.
Kawasan tersebut diproyeksikan memiliki kapasitas tampung hingga 30.000 ekor sapi perah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi membeberkan bahwa terobosan ini diambil lantaran tingkat kebutuhan susu di Jateng sangat tinggi, yakni mencapai hampir 100 ribu liter per hari.
Baca Juga: Tangani Kemarau Panjang di Jateng, Gubernur Luthfi Salurkan 8,8 Juta Liter Air Bersih
Sementara pasokannya masih bergantung pada pengiriman dari Jawa Timur dan daerah lainnya.
"Mengenai sapi perah, kita sudah membuka lahan baru di wilayah Brebes. Nanti ada sekitar 30 ribu ekor sapi perah yang akan kita tempatkan di sana,” ujar Ahmad Luthfi usai upacara HUT ke-81 Provinsi Jateng di Boyolali, Rabu (19/8/2026).
Luthfi menjelaskan, ras sapi yang akan dibudidayakan memiliki keunggulan produktivitas tinggi.
Dalam satu siklus produksi, satu ekor sapi mampu menghasilkan susu di atas 30 ribu liter, berbanding jauh dengan rata-rata sapi peternak tradisional yang berkisar 10 liter per hari.
Nantinya, operasional peternakan skala besar tersebut akan diintegrasikan dengan peternak lokal melalui skema kemitraan inti-plasma.
"Nah, ini nanti akan kita hubungkan dengan para peternak tradisional. Apabila hasil produksi peternak lokal berada di atas 10 liter, maka pola kemitraan akan berjalan," jelas Luthfi.
Baca Juga: Gagal Salip Truk Pakan Ayam, Warga Karanganyar Meninggal di Palur
"Artinya, saat perusahaan besar berdiri di wilayah Brebes, peternak lokal akan berperan sebagai mitra penyedia pakan. Sementara bagi peternak yang produksinya belum mencapai 30 liter, mereka juga akan dirangkul sebagai mitra plasma," imbuh dia.
Mengenai penyediaan bibit sapi unggul, gubernur menyebut akan berkoordinasi langsung dengan pemerintah pusat.
"Kementerian Pertanian yang akan mengondisikan terkait penyediaan bibit. Selama ini seluruh ketersediaan bibit memang dikendalikan oleh Kementerian," tambahnya.
Melalui penutupan celah defisit pasokan ini, Pemprov Jateng berharap daya beli masyarakat meningkat sekaligus mampu menjaring investasi baru dan peternak unggul di wilayah Jawa Tengah.
Baca Juga: Tragis! Pasutri Tewas Saat Antar Jenazah Anak di Tol Batang, Ini Kronologi Ambulans Kecelakaan
Di sisi lain, kondisi riil di tingkat peternak seperti di Kabupaten Boyolali mencatatkan harga jual susu sapi di kisaran Rp8.000 per liter.
Salah seorang peternak sapi perah asal Boyolali, Derajat Tri Wibowo membenarkan adanya kenaikan harga jual susu dari tingkat koperasi yang semula Rp7.500 menjadi Rp8.000 per liter, bahkan bisa menembus Rp10 ribu per liter jika dijual langsung ke konsumen.
Meski demikian, Derajat mengungkapkan bahwa kenaikan harga susu tersebut belum sebanding dengan lonjakan harga pakan serta dampak trauma wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang memangkas populasi ternaknya hingga separo.
"Yang dulu itu harga polar (pakan sapi) katakanlah 160 ribu, sekarang sudah sampai 200 ribuan. Untuk konsentrat, pelet itu juga otomatis naik," ungkap Derajat.
Baca Juga: NIK KTP Terdaftar di DTSEN? Begini Cara Cek Desil Lewat HP di dtsen-form.bps.go.id
Ia menilai, kenaikan harga pakan sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global dan pergerakan nilai tukar mata uang.
"Mungkin kan apa ya, faktor dolar naik atau apa kan bahan-bahan bakunya dari luar negeri kan Mas, yang paling banyak," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com