Kampung Soun Srijaya, Warisan Turun-Temurun yang Tak Lekang Zaman

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:45 WIB

 

Warga Srijaya, Kecamatan Tulung, Klaten, membuat soun dari pati aren. (Rara Belva/Radar Solo)
Warga Srijaya, Kecamatan Tulung, Klaten, membuat soun dari pati aren. (Rara Belva/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Pohon aren selama ini lekat dengan gula aren. Namun, bagi warga Desa Srijaya, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, tanaman tersebut menyimpan manfaat yang jauh lebih luas. Batangnya diolah menjadi tepung pati, kemudian diproses menjadi soun yang bernilai ekonomi.

Di tengah suasana perdesaan, usaha rumahan pengolahan soun itu terus berdenyut. Batang-batang aren yang semula tampak sederhana diolah melalui rangkaian proses panjang hingga berubah menjadi helai-helai soun berwarna putih yang siap dipasarkan.

Usaha tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun. Keterampilan mengolah aren menjadi pati hingga soun diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi masyarakat Srijaya, aktivitas tersebut bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadi salah satu sumber penghasilan.

Baca Juga: Pameran Diikuti 100 Tenant Dari Berbagai Daerah, Gubernur Ahmad Luthfi: UMKM Urat Nadi Perekonomian

Salah satu generasi penerus usaha soun Muhammad Alif Alfachrizal mengatakan, usaha tersebut telah berlangsung lintas generasi.

“Usaha ini sudah berkembang sejak lama dan turun-temurun, dari mbah, bapak, sampai ke generasi saya,” ujarnya.

Lebih dari sekadar menjaga keterampilan tradisional, keberadaan usaha soun turut menggerakkan perekonomian warga. Proses produksi melibatkan masyarakat sehingga membuka peluang penghasilan bagi mereka.

Baca Juga: Mengingat 23 Tahun Pembangunan Suramadu, Ada Ranjau Perang di Jalurnya

“Usaha ini juga membantu perekonomian di Desa Srijaya dan membantu masyarakat, menjadi mata pencaharian mereka,” kata Alif.

Bagi warga Srijaya, aren bukan sekadar tanaman yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka. Tanaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan sekaligus sumber penghidupan.

Dari batang yang keras, warga mengambil pati. Dari pati itu, lahirlah soun. Sementara ampasnya pun masih bisa dimanfaatkan. Hampir tidak ada bagian dari proses tersebut yang benar-benar terbuang percuma.

Tradisi ini sekaligus menunjukkan bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi melalui keterampilan sederhana. Tidak membutuhkan teknologi yang serba modern, tetapi membutuhkan ketelatenan dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Proses panjang pembuatan soun itu dimulai dari batang pohon aren yang telah dipanen. Batang dipotong-potong dan dibelah menjadi beberapa bagian sebelum digiling hingga lembut.

Hasil penggilingan kemudian diperas. Dari proses inilah pati dipisahkan dari ampasnya dan dikumpulkan untuk diolah menjadi tepung sebagai bahan utama pembuatan soun.

Ari Hyang Wigati Ningsih, salah sorang pegawai di rumah produksi soun di Desa Srijaya mengatakan, pengolahan batang aren membutuhkan beberapa tahapan. Tidak semua bagian hasil produksi berakhir sebagai limbah.

“Pohon aren dipotong-potong, dibelah, lalu digiling sampai lembut. Setelah itu diperas supaya patinya turun ke bawah. Ampasnya biasanya diberikan kepada orang yang membutuhkan. Orang yang menerima ampas itu kemudian menggilingnya lagi supaya pati yang masih tersisa bisa diambil,” ujar Ari.

Pemanfaatan ampas tersebut membuat proses produksi menjadi lebih optimal. Ampas yang masih menyimpan pati dapat digiling kembali untuk mengambil sisa pati yang tertinggal.

Dengan begitu, dari satu rangkaian pengolahan aren, masyarakat tidak hanya mendapatkan bahan utama soun, tetapi juga memberikan manfaat bagi warga lain yang memanfaatkan ampasnya.

Setelah tepung pati siap, proses berikutnya adalah mengubahnya menjadi soun. Tepung pati dicampur dengan air, kemudian dimasak hingga berubah menjadi adonan kental.

Adonan tersebut selanjutnya dimasukkan ke alat pencetak. Dari lubang-lubang cetakan, adonan keluar membentuk helaian panjang yang menyerupai mi.

Helai-helai soun yang masih basah kemudian ditata dan dijemur di bawah sinar matahari. Tahap ini menjadi bagian penting dalam proses produksi. Soun harus dikeringkan hingga benar-benar siap sebelum dikemas.

Setelah kering, soun diangkat dan dikemas menggunakan plastik. Proses yang terlihat sederhana tersebut merupakan hasil dari keterampilan yang telah dikuasai masyarakat secara turun-temurun.

Di tengah semakin beragamnya produk pangan modern, usaha soun berbahan pati aren di Srijaya tetap bertahan. Pengetahuan mengenai cara mengolah batang aren menjadi pati hingga soun tidak hilang karena terus diwariskan. (rara belva zain carissa)

 

Editor : Kabun Triyatno
Desa Srijaya pohon aren pati generasi soun