Antisipasi Kekeringan Hingga Oktober, Pemkab Boyolali Genjot Pembangunan 73 Sumur Dalam

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 15:17 WIB
Warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali mencari sumber air hingga ke dalam hutan Perhutani. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Warga Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi, Kabupaten Boyolali mencari sumber air hingga ke dalam hutan Perhutani. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Pemkab Boyolali menggenjot pembangunan 73 unit sumur dalam guna mengantisipasi dampak kekeringan yang diprediksi bertahan hingga Oktober 2026.

Langkah ini menjaga pasokan air irigasi sekaligus meningkatkan Indeks Pertanaman di wilayah terdampak.

Kepala Dinas Pertanian Boyolali Suyanta mengatakan, sebagian besar proyek bantuan dari pemerintah pusat sudah beroperasi dan membuahkan hasil di lapangan.

"Saat ini proses pembangunan sudah berjalan di Klego, Karanggede, dan beberapa kecamatan lain. Sumurnya sudah mulai berhasil," ujar Suyanta, Kamis (27/8/2026).

Baca Juga: Uji Kesiapsiagaan Personel, Polres Wonogiri Gelar Simulasi Pengamanan Markas Komando

Dinas Pertanian Boyolali memproyeksikan setiap unit sumur mampu mengairi 7 hingga 10 hektare lBaca Juga: Daftar Harga Motor Matic Yamaha 2026 Terbaru: NMAX, Aerox, Mio dan Gear Ultima, Mulai Rp18 Jutaanahan pertanian.

Hingga pertengahan Agustus, realisasi pengerjaan fisik telah mencapai hampir 60 persen.

Meskipun secara umum berjalan lancar, kendala teknis sempat muncul di salah satu titik pengerjaan.

"Kemarin sempat ada kendala di Desa Jagoan karena tanah bagian dalam ambrol, sehingga semburan airnya kecil. Namun saat ini sedang proses rehabilitasi," terangnya.

Proyek ini memanfaatkan alokasi anggaran tahun 2026 dari Kementerian Pertanian dengan nilai rata-rata Rp110 juta hingga Rp150 juta per unit.

Baca Juga: Sempat Mangkrak Selama 2 Tahun, Pasar Rakyat Nogosari Boyolali Gratiskan Sewa Kios Hingga 2027

Selain bantuan pusat, Pemkab Boyolali turut berkontribusi membangun 3 unit sumur melalui APBD.

"Tujuan utamanya meningkatkan Indeks Pertanaman. Karena memperluas lahan sawah tidak memungkinkan, maka frekuensi tanamnya yang kita tingkatkan—dari yang sebelumnya panen sekali setahun, diupayakan bisa sampai tiga kali," tambah Suyanta.

Mengenai produktivitas, Suyanta mengakui adanya penurunan hasil panen sekitar 3 persen akibat kombinasi cuaca kering dan serangan hama.

Meski demikian, ia menegaskan ketahanan pangan Boyolali tetap kondusif.

Baca Juga: Daftar Harga Motor Matic Yamaha 2026 Terbaru: NMAX, Aerox, Mio dan Gear Ultima, Mulai Rp18 Jutaan

"Hasil panen kita memang sempat berkurang sekitar 3 persen akibat serangan hama. Namun berdasarkan perhitungan, Boyolali masih memiliki surplus sekitar 7 ribu ton. Cadangan pangan kita aman setidaknya sampai Oktober mendatang," tegasnya.

Sejumlah kawasan seperti Simo, Nogosari, Ngemplak, Banyuanyar, Teras, dan Sawit dilaporkan berhasil menerapkan pola tiga kali panen dalam setahun berkat topangan sumur swadaya serta bantuan pemerintah.

Menghadapi sisa musim kemarau, Dinas Pertanian mengimbau para petani di area minim pasokan air untuk tidak memaksakan menanam padi dan disarankan beralih ke tanaman palawija.

"Bagi yang pasokan airnya terbatas, disarankan jangan memaksakan menanam padi. Lebih baik beralih ke jagung atau kacang-kacangan. Boyolali memiliki potensi besar untuk jagung, kacang tanah, dan kedelai," pangkas Suyanta. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Sumur Dalam Dinas Pertanian Boyolali kemarau kekeringan Pemkab Boyolali