RADARSOLO.COM - Dampak musim kemarau di Kabupaten Boyolali dilaporkan terus meluas.
Hingga 1 September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mencatat telah menyalurkan sebanyak 2.592.000 liter air bersih guna menanggulangi krisis air warga.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menjelaskan, distribusi pasokan air bersih tersebut telah menjangkau 11 kecamatan, 32 desa/kelurahan, dan 95 dukuh dengan mengerahkan 546 armada tangki.
Baca Juga: Sambung Rasa di Karangduren Klaten, Bupati Hamenang Serap Aspirasi dan Dorong Penguatan Potensi Desa
"Sampai saat ini kita sudah melakukan dropping air bersih di 11 kecamatan terdampak. Total yang sudah kita salurkan kurang lebih 2,5 juta liter untuk memenuhi kebutuhan 7.974 KK atau 24.706 jiwa," terang Ari, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan data operasional BPBD Boyolali, dua kecamatan yang mencatatkan volume penyaluran tertinggi meliputi Kecamatan Wonogondo sebanyak 218 tangki (982 ribu liter) dan Kecamatan Wonosegoro sebanyak 129 tangki (674 ribu liter).
Adapun rincian pasokan air di beberapa wilayah desa terdampak di antaranya:
- Desa Bojong (Wonosegoro) menerima 297 ribu liter
- Desa Garangan (Wonosamudro) 257 ribu liter
- Desa Bengle (Wonosegoro) 232 ribu liter.
Potensi Kemarau Ekstrem Melampaui 2023
Membandingkan kondisi saat ini dengan tren krisis air pada tahun 2023, Ari menilai potensi kekeringan tahun ini berisiko jauh lebih parah.
"Kalau kita bandingkan dengan data di tahun 2023, ada kemungkinan bahwa kekeringan di tahun ini kemungkinan sama ataupun bahkan jauh lebih ekstrem dibandingkan di tahun 2023," jelas Ari.
Merujuk pada proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), durasi musim kemarau tahun ini berpotensi memanjang dipicu fenomena El Nino dengan intensitas moderat hingga kuat.
Baca Juga: Beasiswa Pemuda Berprestasi di Wonogiri Digulirkan Kembali, Anak Pejabat Tak Boleh Ikut
"Sesuai dengan data dari BMKG bahwa kemarau ini akan cukup panjang. El Nino itu moderat ke strong. Sehingga ada kemungkinan kemarau ini sampai di bulan November, bahkan tidak menutup kemungkinan itu nanti berlangsung sampai awal tahun 2027," tambahnya.
Kendati demikian, BPBD Boyolali terus mematangkan langkah mitigasi lanjutan dan berharap potensi hujan mulai membasahi wilayah setempat pada penghujung tahun.
"Tapi harapan nanti di bulan Desember ini semoga sudah ada curah hujan sehingga dampak dari kekeringan ini dapat diminimalisir," pangkas Ari. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com