RADARSOLO.COM - Harga sejumlah komoditas kebutuhan pokok di Pasar Kota Boyolali masih terpantau tinggi, Kamis (3/9/2026).
Cabai rawit dan daging ayam potong mencatatkan lonjakan harga secara bertahap selama tiga pekan terakhir.
Saat ini, harga cabai rawit bertahan di kisaran Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram (kg).
Padahal sebelumnya, masih berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kg.
Baca Juga: Tarso Jadi Nakhoda Demokrat Wonogiri, Bidik Tujuh Kursi DPRD pada Pileg 2029
Pedagang di Pasar Boyolali, Tri Heri, menjelaskan, tren kenaikan harga cabai rawit terjadi lebih dari dua pekan.
"Tapi kondisi ini naiknya lama. Dalam arti lamanya itu kenaikannya itu dua mingguan lebih baru naik," jelas Tri Heri, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, pemicu utama lonjakan harga cabai rawit disebabkan oleh kendala cuaca serta menyusutnya pasokan barang di tingkat petani.
Di sisi lain, harga beberapa jenis cabai lainnya cenderung stabil.
Cabai keriting dijual di bawah Rp30 ribu per kilogram, sementara cabai teropong berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kg.
Pakan Mahal Bikin Kandang Kosong, Daging Ayam Tembus Rp43 Ribu
Baca Juga: Dua Kebakaran Terjadi di Wonogiri dalam Sehari, Kandang Kambing hingga Rumah Hangus
Kenaikan tajam turut melanda komoditas daging ayam potong.
Dari harga normal Rp35 ribu per kilogram, kini melambung ke angka Rp40 ribu hingga Rp42 ribu per kilogram.
Bahkan di beberapa titik lokasi wilayah Boyolali, harganya menembus Rp43 ribu per kilogram.
Pedagang daging ayam, Heni menuturkan, kondisi harga saat ini tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan momen Hari Raya Idulfitri.
Kenaikan telah berlangsung hampir tiga pekan akibat tergerusnya stok pasar.
Baca Juga: 12 Cabang Olahraga Sudah Siap, NPC Indonesia Bidik Persaingan Asian Para Games: 100 Atlet Disiapkan
"Harga daging ayam saat ini Rp 40 ribu sekilonya. Rp40 ribu itu kadang kalau lainnya Boyolali (diluar Pasar Boyolali), sampai Rp 42 ribu - Rp 43 ribu kondisi ini hampir 3 minggu penyebabnya karena stok barang ya yang menipis karena harga pakan yang mahal," beber Heni.
Tingginya harga pakan memicu sebagian peternak memilih membiarkan kandang kosong dan enggan memasukkan bibit ayam baru.
"Permintaan banyak barangnya tidak ada lalu kondisi kandang itu kan banyak yang kosong tidak mau memasukkan bibit karena kondisi pakan yang mahal jadi biarpun ayam harganya mahal tapi tidak menguntungkan bagi para peternak," tambah Heni.
Menyikapi kondisi tersebut, para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah intervensi guna menjamin ketersediaan pasokan dan menstabilkan harga pasar agar tidak semakin menggerus daya beli masyarakat. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com