Bekali Keterampilan Usaha, Warga Binaan Rutan Boyolali Kelola Budi Daya Maggot Mandiri

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:32 WIB
Warga binaan Rutan Boyolali kembangkan budi daya maggot. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Warga binaan Rutan Boyolali kembangkan budi daya maggot. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM-Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Boyolali terus menggalakkan program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan.

Salah satu inovasi terbaru yang dikembangkan adalah budi daya maggot Black Soldier Fly (BSF) berbasis pemanfaatan limbah dan sampah organik dapur.

Selain menekan volume limbah domestik di lingkungan internal rutan, hasil panen larva BSF ini dimanfaatkan langsung sebagai pakan alternatif bernutrisi tinggi untuk peternakan ayam, mentok, hingga budidaya perikanan lele yang dikelola warga binaan.

Baca Juga: Sikapi SE Kemenkes Soal Erupsi Gunung Anak Krakatau, Dinkes Boyolali Siagakan Puskesmas dan Rumah Sakit

Staf Ketahanan Pangan Rutan Kelas IIB Boyolali Muhammad Afandi mengungkapkan, program ini dirintis secara mandiri dengan modal awal 5 gram telur maggot yang dibeli secara daring.

"Awalnya kami coba budi daya pertama mati semua. Kami coba lagi dan akhirnya berhasil menetas. Dari sekitar 5 gram yang dijadikan lalat pembibitan, Alhamdulillah hasilnya kini sudah berkembang pesat," ujar Afandi, Senin (7/9/2026).

Dari bibit awal 5 gram tersebut, saat ini kapasitas produksi maggot yang dikembangkan bersama warga binaan telah mencapai kisaran 50 kilogram.

Afandi menjelaskan, fokus utama dari inovasi ini adalah menyelesaikan persoalan sisa porsi makanan harian para penghuni rutan.

Sampah organik dipisahkan dari sampah plastik untuk dialihkan sebagai pakan maggot.

Siklus budidaya maggot tergolong singkat dan efisien.

Baca Juga: Profil KH Ahmad Fudholi, Penceramah Asal Banten Meninggal Dunia Usai Kecelakaan di Tol Tangerang-Merak

Telur maggot menetas dalam waktu 1–2 hari dan siap dipanen pada usia 12 hari.

Sebagian larva dipanen sebagai pakan ternak, sedangkan sisanya dibiarkan tumbuh menjadi lalat BSF dewasa untuk penangkaran bibit baru.

Kapasitas produksi harian di Rutan Boyolali saat ini menembus 3 hingga 5 kilogram per hari.

Pihak rutan juga mulai merambah pasar luar dengan mematok harga Rp8 ribu per kilogram berdasarkan acuan riset pasar di wilayah Soloraya.

Penerapan Ekonomi Sirkular dan Premi Warga Binaan

Program pembinaan ini melibatkan warga binaan berstatus asimilasi yang bertugas sebagai tahanan pendamping bidang pertanian.

Salah seorang warga binaan, Suyono (49), mengaku mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dari program ini.

Meskipun sempat gagal di awal, ia terus belajar hingga mahir mengelola siklus maggot.

Baca Juga: Kronologi KH Ahmad Fudoli Kecelakaan hingga Meninggal Dunia di Tol Tangerang-Merak

"Awalnya belum tahu sama sekali karena belum pernah budidaya maggot, jadi harus bertahap. Pertama gagal, lalu belajar lagi, dan akhirnya berhasil," tutur Suyono, yang telah menjalani masa pembinaan selama 3 tahun 4 bulan tersebut.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali Ervans Bahrudhin Mulyanto menegaskan, budi daya maggot ini merupakan bagian integral dari ekosistem pertanian terpadu di rutan yang menerapkan konsep ekonomi sirkular.

"Maggot ini diproduksi sebagai pakan alternatif untuk sektor perikanan kami. Beberapa bulan lalu, kami sudah panen ikan lele. Hasil panen lele tersebut dibeli langsung oleh vendor penyedia bahan makanan rutan," jelas Ervans.

Ervans menambahkan, skema ini terbukti memberi nilai tambah secara ekonomis.

Sebagian hasil penjualan panen disalurkan kembali kepada warga binaan dalam bentuk premi atau upah kerja.

Premi tersebut telah dibagikan menjelang momen tahun ajaran baru sekolah 2026 lalu guna membantu kebutuhan keluarga warga binaan.

"Harapan kami besar sekali. Ketika bebas nanti, bekal ilmu dan keterampilan yang didapatkan di sini bisa menjadikan mereka pionir di tengah masyarakat. Masyarakat justru bisa belajar dari para warga binaan yang sudah memiliki skill dan ilmu berdaya guna ini," pangkasnya. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
rutan boyolali Maggot warga binaan budi daya