RADARSOLO.COM - Pemkab Boyolali mengintensifkan penanganan krisis air bersih akibat perluasan dampak musim kemarau.
Selain menyalurkan bantuan air secara darurat, Pemkab Boyolali menyiapkan skema jangka menengah dan panjang untuk memutus siklus krisis air tahunan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali mencatat, dampak kekeringan telah meluas dan menyasar sebanyak 27.923 jiwa.
Puluhan ribu warga terdampak tersebut tersebar di 110 dukuh yang berada pada 35 desa di wilayah Kabupaten Boyolali.
Baca Juga: Investasi Semester II 2026 Di Sukoharjo Lambat, Jauh Di Bawah 2025
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Boyolali Ari Wahyu Prabowo menuturkan, upaya mitigasi serta penyaluran air bersih terus berjalan secara berkala sejak Juni.
Total bantuan air yang telah dikucurkan kini mencapai kisaran 3,6 juta liter.
"Penyaluran air bersih ini merupakan respons cepat dan bentuk sinergi pemerintah bersama masyarakat. Namun, dropping air sifatnya baru solusi sementara," terang Ari, Rabu (9/9/2026).
Guna mengoptimalkan penanganan darurat di lapangan, BPBD Boyolali akan merubah pola penyaluran.
Jika sebelumnya pengiriman air bersifat reaktif berdasarkan surat permohonan dari pemerintah desa, ke depan penyaluran akan dialihkan menggunakan sistem penjadwalan rutin.
Baca Juga: Tiga Perlintasan Sebidang Kereta Api di Wonogiri Akan Ditutup, KAI Ungkap Alasannya
Melalui sistem terjadwal ini, kawasan yang telah dipetakan masuk zona rawan kekeringan akan menerima pasokan air berkala secara otomatis tanpa perlu menunggu pengajuan permohonan.
"Dengan sistem terjadwal, kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak dapat tercukupi secara lebih teratur dan tepat waktu," paparnya.
Menghadapi potensi durasi musim kemarau yang lebih panjang, Pemkab Boyolali merumuskan dua langkah strategis guna membangun ketahanan air daerah:
-
Jangka Menengah: Merencanakan penambahan titik sumur bor di wilayah rawan. Kendati demikian, Ari menyebut opsi ini terkendala kondisi geografis karena tidak semua area memiliki potensi air tanah yang memadai.
-
Jangka Panjang: Menciptakan ketahanan air berbasis lingkungan melalui kolaborasi bersama institusi pendidikan dan komunitas pemerhati lingkungan, dengan fokus utama program reboisasi atau penghijauan kembali lahan-lahan gundul.
Langkah konservasi vegetasi tersebut ditujukan untuk memaksimalkan daya serap air hujan ke dalam tanah saat musim penghujan, sehingga cadangan air tanah tetap tersimpan dan dapat dimanfaatkan warga ketika kemarau tiba.
"Tantangan utama kita adalah membangun ketahanan air yang berkelanjutan. Konservasi lingkungan menjadi kunci agar potensi air hujan terpelihara dan krisis air tahunan ini bisa diselesaikan secara permanen," pangkas Ari. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com